Jumat, 15 Mei 2026

Kamala vs Trump, Menakar Untung-Rugi untuk Indonesia

Penulis : Vinnilya Huanggrio
25 Jul 2024 | 19:24 WIB
BAGIKAN
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris dan calon presiden dari Partai Republik dan mantan presiden AS Donald Trump. (Brendan Mcdermid/ Elizabeth Frantz/ Reuters)
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris dan calon presiden dari Partai Republik dan mantan presiden AS Donald Trump. (Brendan Mcdermid/ Elizabeth Frantz/ Reuters)

JAKARTA, investor.id – Kamala Harris menjadi kandidat kuat menggantikan Joe Biden di Pilpres Amerika Serikat (AS) pada November 2024 mendatang. Wakil Presiden ke-49 AS dari Partai Demokrat tersebut akan bersaing dengan Donald Trump dari Partai Republik.

Namun jika disandingkan antara keduanya, mana yang lebih menguntungkan bagi Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung?

Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, kepemimpinan Donald Trump pada tahun 2017-2021 lalu tidak terlalu menguntungkan bagi emerging market seperti Indonesia.

ADVERTISEMENT

“Pemerintah perlu belajar dari pengalaman terutama 2016 silam ketika administrasi Presiden Trump memimpin, karena beberapa kebijakan yang dilakukan oleh Trump relatif mengubah arah perekonomian global kala itu,” ungkap Yusuf dalam program Investor Daily Talk di IDTV, pada Kamis (25/7/2024).

Dia menerangkan, pemerintahan Trump cenderung proteksionisme kepada China, yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Kebijakan proteksionisme misalnya berupa pembatasan sejumlah barang-barang dari luar AS, terutama dari China, sehingga membuat ekonomi negeri Tirai Bambu itu menjadi melambat. Penurunan ekonomi China ini yang akhirnya berpengaruh pada permintaan (demand) ekspor produk RI ke sana.

Kamala vs Trump, Menakar Untung-Rugi untuk Indonesia
Neraca perdagangan Indonesia dan China. (Ilustrasi: Investor Daily)

“Tanpa memasukkan unsur Pilpres AS saja, kita lihat data terakhir ekspor beberapa komoditas Indonesia ke China itu mengalami penurunan dan tentu penurunan ekspor beberapa komoditas ini akhirnya berdampak pada harga komoditasnya secara umum,” tutur Yusuf.

Menurut Yusuf, jika dibandingkan dengan tahun lalu secara year to date (ytd), beberapa harga komoditas cenderung terkoreksi yang mana ini mempengaruhi kinerja neraca dagang nasional hingga penerimaan negara. Untuk itu, pemerintahan baru dari presiden terpilih Prabowo Subianto mesti menyiapkan dua skenario untuk mengantisipasi hal tersebut.

Jika Kamala Terpilih?

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 39 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 43 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 3 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 3 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia