Minggu, 21 Juni 2026

Beda dari RAPBN 2025, Begini Prediksi Rupiah dari BI

Penulis : Arnoldus Kristianus
27 Aug 2024 | 20:06 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi rupiah. (Foto: Antara)
Ilustrasi rupiah. (Foto: Antara)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan nilai tukar rupiah akan berada dalam kisaran Rp 15.300 sampai Rp 15.700 selama tahun 2025.

Nilai tukar rupiah akan dibayangi sentimen perekonomian global, kphususnya yang terkait dengan kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Angka ini berbeda dari asumsi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 yang sebesar Rp 16.100 per dolar AS.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya memperkirakan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin di tahun 2024 dan turun 75 basis poin di tahun 2025. Kondisi tersebut akan memberikan dampak dengan meningkatnya aliran modal asing dari negara maju ke negara berkembang termasuk Indonesia.

ADVERTISEMENT

“Dengan demikian inflow ke emerging market termasuk Indonesia itu juga meningkat dan demikian US Treasury 10 tahun itu kami perkirakan turun dan itu bisa mendorong inflow,” ucap Perry dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR di Gedung DPR pada Selasa (27/8/2024).

Perry mengatakan fundamental perekonomian Indonesia termasuk kuat, karena indikator pertumbuhan ekonomi yang terjaga di kisaran 5% dan inflasi tetap terjaga sesuai target di kisaran 2,5% plus minus 1%.

“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi inflasi yang rendah itu memberikan persepsi positif bagi investor untuk menanamkan portofolio dan investasi di Indonesia,” kata Perry.

Sementara itu imbal hasil surat berharga negara (SBN) juga tetap akan menarik kalau yield US Treasury 10 tahun tahun depan kemungkinan di angka 3,6%. BI konsisten melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan, termasuk dalam penerbitan SBN dan sekuritas rupiah Bank Indonesia (SRBI).

BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga nilai tukar agar lebih menguat. Sentimen yang diperhatikan adalah kondisi geopolitik sebab akan mempengaruhi volatilitas mata uang.

“Hal yang perlu diwaspadai defisit transaksi berjalan naik, 0,1-0,9 % dari PDB (produk domestik bruto), mungkin tahun depan agak melebar di ksiara 0,5-1,3% dari PDB tapi itu beberapa yang kita waspadai,” terang Perry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 11 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 42 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia