BI Ungkap Alasan Suku Bunga Naik 100 Bps dalam Sebulan
JAKARTA, investor.id – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi secara beruntun membuat Bank Indonesia (BI) bekerja ekstra dalam menjalankan sejumlah kebijakan moneter.
Dalam satu bulan terakhir BI sudah menaikan suku bunga acuan (BI-Rate) hingga 100 basis poin (bps) agar rupiah dapat berada kembali sesuai nilai fundamental.
Kenaikan suku bunga acuan dimulai pada Mei 2026 sebesar 50 basis poin dari 4,75% ke 5,25%. Lalu dalam RDG Mingguan yang berlangsung pada 9 Juni 2026, BI-Rate naik 25 basis poin menjadi 5,5%.
Lalu, dalam RDG Bulan Juni 2026 BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin lagi mencapai 5,75%.
"Jadi memang yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Kalau kita lihat dalam satu bulan ini kami sudah menaikkan 100 basis. Karena memang stabilitas ini menjadi fokus kami pada saat ini khususnya terkait dengan stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Juni 2026 yang berlangsung secara virtual pada Kamis (18/6/2026).
Berdasarkan data BI per 17 Juni 2026, aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai Rp 4,9 triliun. Sedangkan dana asing yang masuk melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp 55,3 triliun.
Selain menaikkan suku bunga acuan, BI juga meningkatkan imbal hasil (yield) SRBI tenor 12 bulan yang saat ini di kisaran 7,5%. Sedangkan yield SBN sempat berada di atas 7% sebelum kembali turun ke sekitar 7,02%.
BI menjalankan langkah-langkah tersebut agar dapat meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dengan harapan akan meningkatkan masuknya aliran modal asing dan memperkuat pasokan valuta asing di dalam negeri.
"Tujuan utama kami adalah menarik inflow dan menambah pasokan valas. Ini sesuai dengan kebutuhan perekonomian kita saat ini, terutama untuk memenuhi kebutuhan dolar AS," tutur Destry.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, Bank Indonesia membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor-tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan bagi perbankan guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Bank Indonesia juga membeli SBN yang pada 2026 (hingga 17 Juni 2026) mencapai Rp 156,98 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp 76,62 triliun.
“Perkembangan ini menjaga pertumbuhan uang primer tetap tinggi (double digit) dan mendukung tetap terjaganya kecukupan likuiditas perekonomian,” kata Perry.
Dia mengatakan uang primer (M0) pada Mei 2026 tumbuh sebesar 14,8% (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan April 2026 sebesar 14,1% (yoy).
Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada April 2026 tumbuh sebesar 9,2% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 9,7% (yoy). Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit.
“Ke depan, pertumbuhan uang beredar akan terus dikelola sehingga tetap konsisten menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah,” terang Perry.
Editor: Erta Darwati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






