Jumat, 15 Mei 2026

Mustahil Ekonomi Tumbuh 8% Tanpa Industrialisasi dan Transisi EBT

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
19 Des 2024 | 19:29 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi industri manufaktur. (Foto: istimewa)
Ilustrasi industri manufaktur. (Foto: istimewa)

JAKARTA, investor.id – Target Presiden Prabowo Subianto untuk menumbuhkan ekonomi Indonesia mencapai 8% dalam lima tahun ke depan dinilai mustahil tanpa mendorong percepatan industrialisasi dan transisi energi baru terbarukan (EBT).

Hal tersebut disampaikan oleh Ekonom Senior sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Mohammad Faisal dalam acara diskusi media bertajuk “Energi Baru dan Terbarukan: Pendorong atau Penghambat Pertumbuhan Ekonomi” di kantor CORE Indonesia, Jakarta, Rabu (18/12/2024).

“Setelah pemerintahan baru mencanangkan untuk menuju target pertumbuhan ekonomi 8%. Kami menyampaikan, salah satu caranya adalah kita mesti percepat pertumbuhan industri manufaktur atau Industrialisasi. Gerakannya harus dipercepat. Tanpa industrialisasi tidak mungkin target 8% tercapai,” kata Faisal.

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, industrialisasi menciptakan value added yang tinggi. Industri dapat mencetak lapangan kerja formal baru yang paling banyak, ketimbang sektor lainnya.

“Kalau bicara menciptakan lapangan pekerjaan memang nomor satu pertanian, kedua perdagangan, ketiga industri. Tapi kalau bicara lapangan kerja formal, nomor satu adalah industri,” terang Faisal.

Faisal menilai, industrialisasi dapat menjadi solusi atas permasalahan peningkatan pengangguran khususnya di kalangan muda.

Nah, makanya disinilah artinya industrialisasi untuk menjawab meningkatnya pengangguran khususnya pengangguran muda dan juga untuk menjawab perlunya akselerasi,” tuturnya.

Adapun untuk menggerakkan, mempercepat dan memperluas industrialisasi demi mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, maka Indonesia dinilai perlu melakukan transisi energi, yakni mengganti sumber energi fosil dengan mengembangkan EBT.

“Energi baru terbarukan itu sebagai modalnya. Gak mungkin kita mempercepat ekonomi Melakukan industrialisasi tanpa tambahan energi. Nah sementara kalau kita melihat bauran energi sekarang dominan fosil yang tidak terbarukan, yakni minyak bumi, gas alam, batu bara,” jelas dia.

Oleh karenanya, pemerintah perlu menggencarkan transisi energi menuju EBT, sebelum Indonesia kehabisan energi fosil seiring pemanfaatannya yang masif.

Nah disinilah makanya kita memikirkan untuk EBT. Jadi transisi energi menuju EBT itu menjadi penting kalau kita mau mencapai pertumbuhan tadi. Nah masalahnya sampai dengan saat sekarang, transisi energi menuju EBT itu lambat. Artinya perlu dipercepat ini EBT Kalau kita mau capai pertumbuhan ekonomi tinggi,” ujar Faisal.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 25 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 29 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia