Jumat, 15 Mei 2026

Airlangga Ungkap Ambisi Pemerintah Untuk Capai ICOR 4

Penulis : Arnoldus Kristianus
13 Jan 2025 | 20:21 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mengikuti acara Business Competitiveness Outlook 2025 di Hotel Raffles, Jakarta pada Senin (13/1/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah mengikuti acara Business Competitiveness Outlook 2025 di Hotel Raffles, Jakarta pada Senin (13/1/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah menargetkan agar Incremental Capital Output Ratio (ICOR) bisa mencapai poin 4, dari saat posisi saat ini di level 6. Upaya menurunkan ICOR tak bisa dilakukan dalam waktu singkat, namun mesti tetap ditekan untuk mendorong geliat investasi di Tanah Air.

“Tentu itu perlu program lebih panjang karena ICOR kan terkait investasi jadi gak bisa instan,” ucap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Business Competitiveness Outlook 2025 di Hotel Raffles, Jakarta pada Senin (13/1/2025).

ICOR merupakan rasio yang menunjukkan besarnya tambahan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit output. Semakin tinggi ICOR, maka menunjukkan inefisiensi yang tinggi.

ADVERTISEMENT

Salah satu langkah yang dilakukan untuk menekan ICOR adalah dengan mengoptimalkan kinerja Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pasalnya, ICOR di KEK sudah berada di level 4, mencerminkan efisiensi di kawasan tersebut tinggi sehingga pengusaha menjadi lebih tertarik untuk investasi di sana.

“Jadi untuk mencapai ICOR 4%, kita perlu mengembangkan lebih banyak KEK,” kata Airlangga.

Selama tahun 2024 KEK telah berhasil menghimpun investasi sebesar Rp 82,6 triliun dan juga mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 42.930 orang. Secara kumulatif mulai dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2024, KEK telah mencatat capaian investasi sebesar Rp 256,7 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 156.208 orang dan melibatkan sebanyak 394 pelaku usaha.

Airlangga menyatakan, pengembangan KEK juga dilakukan untuk daerah-daerah yang memiliki keunggulan pariwisata. Namun untuk menghadirkan KEK dibutuhkan kesiapan infrastruktur hingga insentif fiskal yang memadai, terutama infrastruktur yang terkait dengan angkutan udara.

“Hal yang paling penting angkutan udara, nah angkutan udara ini yang harus diselesaikan karena kapasitas kita pre dan post Covid itu berbeda jumlah pesawat yang dipakai,” demikian tutur Airlangga.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia