Jumat, 15 Mei 2026

Sri Mulyani Bicara Tren Rupiah

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Jan 2025 | 19:05 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2025 di Jakarta, Jumat (24/1/2025). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) I Tahun 2025 di Jakarta, Jumat (24/1/2025). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

JAKARTA, investor.id – Sekaligus Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 1,14% point to point pada 23 Januari 2025. Angka ini relatif sejalan dengan pelemahan nilai tukar mata uang regional lainnya.

Meski melemah angka ini masih lebih baik dari kondisi nilai tukar rupiah pada akhir tahun 2024 sehingga nilai tukar rupiah tetap terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

“Perkembangan tersebut sejalan dengan kebijakan stabilisasi BI serta didukung oleh aliran masuk modal asing yang masih berlanjut, imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik, serta prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik,” ucap Sri Mulyani dalam konferensi pers Hasil Rapat Berkala KSSK I Tahun 2025 di Aula Mezzanine, Kantor Kementerian Keuangan pada Jumat (24/1/2025).

ADVERTISEMENT

Dia mengatakan, nilai tukar rupiah menguat terhadap mata uang kelompok negara maju di luar dolar AS, dan stabil terhadap mata uang kelompok negara berkembang.

Sementara posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2024 tercatat tinggi yakni sebesar US$ 155,7 miliar, setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Saat ini pemerintah tengah menyiapkan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2023 yang mengatur kebijakan tentang devisa hasil ekspor atas sumber daya alam dengan mekanisme yang tetap mempertimbangkan kondisi keuangan eksportir.

“Kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat posisi cadangan devisa dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” terang Sri Mulyani.

Bila melihat kondisi tahun 2024, secara keseluruhan tahun 2024, hingga 31 Desember 2024, Rupiah tercatat di level Rp 16.095, melemah 4,34% (yoy) secara point to point. Perkembangan nilai tukar rupiah tersebut lebih baik dibandingkan dengan mata uang sejumlah negara lain seperti won Korea, peso Mexico, real Brasil, yen Jepang, dan lira Turki.

“Memasuki awal tahun 2025, tekanan mata uang dolar AS tetap kuat,” kata dia.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 16 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 48 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 59 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia