Jumat, 15 Mei 2026

BI Ungkap Peluang Indonesia dari Dampak Perang Tarif AS

Penulis : Arnoldus Kristianus
7 Feb 2025 | 15:14 WIB
BAGIKAN
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juli Budi Winantya (paling kiri) dalam acara pelatihan wartawan di Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh pada Jumat (7/2/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juli Budi Winantya (paling kiri) dalam acara pelatihan wartawan di Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh pada Jumat (7/2/2025). (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

ACEH, investor.id – Bank Indonesia (BI) menilai perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dengan China, Meksiko, dan Kanada akan bisa memberikan peluang ekspor dan investasi bagi Indonesia.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya mengatakan, peluang ekspor bisa terjadi dari pangsa pasar yang ditinggalkan oleh China, imbas perang dagang. Produk-produk yang bisa dihasilkan Indonesia bisa terserap di negara-negara yang tengah bertikai ini.

“Banyak produk-produk dari Amerika Serikat dan Vietnam, yang punya kesamaan. Apabila nanti peningkatan tarif ini diterapkan, bisa kita manfaatkan peluang untuk meningkatkan ekspor,” ucap Juli dalam acara pelatihan wartawan di Kantor Perwakilan BI Provinsi Aceh pada Jumat (7/2/2025).

ADVERTISEMENT

Peluang dari perang dagang juga dapat terjadi melalui relokasi investasi yang sebelumnya berada di China pindah ke negara lain. Seperti yang terjadi saat perang dagang di tahun 2018, banyak perusahaan yang melakukan relokasi dari China ke Vietnam. Namun, saat ini Vietnam bukan lagi menjadi negara tujuan karena sedang mengalami surplus transaksi berjalan.

“Indonesia ada di posisi yang bagus untuk bisa memanfaatkan peluang itu. Jadi terkait dengan Trump tadi, ada risiko dan juga di sisi lain ada peluang. Ini yang masih terus kita pantau dampaknya,” kata Juli.

Perang dagang yang dikhawatirkan akhirnya pecah, menyusul kembali berkuasanya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Mulanya, AS mengenakan tarif 25% kepada Kanada dan Meksiko, serta 10% kepada barang-barang impor dari China. Seketika Kanada membalas tarif yang sama kepada AS, termasuk ancaman serangan balik dari Meksiko dan China.

Namun belakangan, pemimpin AS, Kanada, dan Meksiko sepakat untuk menunda kebijakan masing-masing, beberapa hari setelah saling serang. Penundaan perang tarif berlaku selama 30 hari. Kendati demikian, ancaman perang dagang masih mengemuka.

Juli menuturkan, pemerintah tetap harus mewaspadai dampak perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, mengingat negeri Tirai Bambu menjadi mitra dagang utama Indonesia. Hal itu bisa turut berimbas pada sisi ekspor Indonesia yang melambat karena pertumbuhan ekonomi China melambat.

“Resiko kedua yaitu karena produk Tiongkok itu tidak bisa dijual lagi ke Amerika Serikat, sehingga dapat membanjiri masuk ke Indonesia itu dari sisi risikonya,” tutur dia.

Juli menambahkan, perang dagang terjadi secara dinamis, khususnya untuk AS, Meksiko, dan Kanada sedang dalam tahap negosiasi. Menurut dia, perang tarif ini digunakan oleh pemerintah AS tidak hanya murni karena alasan ekonomi tetapi juga terkait dengan kebijakan politik luar negeri AS.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia