Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Diperkirakan Mulai Terkerek pada Maret

Penulis : Arnoldus Kristianus
3 Mar 2025 | 19:58 WIB
BAGIKAN
Calon penumpang pesawat antre untuk masuk kedalam terminal 1 A Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)
Calon penumpang pesawat antre untuk masuk kedalam terminal 1 A Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

JAKARTA, investor.id – Inflasi diperkirakan meningkat pada Maret 2025, usai mencatat deflasi pada bulan sebelumnya. Peningkatan inflasi pada Maret juga dipengaruhi lonjakan konsumsi masyarakat dan berakhirnya diskon tarif listrik.

Peneliti Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Riandy Laksono memperkirakan pada Maret 2025 akan terjadi inflasi lantaran diskon tarif listrik selesai pada Februari 2025. Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) pada Maret 2025 juga akan meningkatkan daya beli masyarakat yang berujung pada kenaikan konsumsi masyarakat.

“Prediksi saya akan ada inflasi di bulan Maret selain juga karena umumnya ada kenaikan dari sisi harga-harga pangan dan juga kenaikan permintaan secara umum karena dorongan THR,” kata Riandy saat dihubungi pada Senin (3/3/2025).

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 terjadi deflasi sebesar 0,48% month to month (mtm), sehingga secara tahunan terjadi deflasi 0,09% year on year (yoy), menurun dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,76% (yoy).

Pada Februari 2025 terjadi inflasi inti sebesar 0,25% secara bulanan dan 2,48% secara tahunan. Data itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tumbuh stabil. Angka ini cukup comparable dengan tahun-tahun sebelumnya terutama pada dua bulan terakhir ini.

“Belum ada indikasi jelas bahwa daya beli menurun dari core inflation ini,” imbuh dia.

Riandy menilai sisi permintaan masyarakat akan disokong oleh penyaluran THR tetapi pemerintah harus memperhatikan daya beli kelas menengah yang masih memiliki masalah. Khususnya bagi pekerja-pekerja sektor informal.

“Mengingat banyak penciptaan kerja belakangan ini didorong oleh sektor informal dimana tidak ada jaminan THR disana dan pendapatan naik turun,” tukas Riandy.

Dampak Diskon Tarif Transportasi

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia