Jumat, 15 Mei 2026

Kebijakan Tarif Resiprokal AS Jadi Dorongan bagi Indonesia untuk Diversifikasi Pasar Ekspor

Penulis : Arnoldus Kristianus
3 Apr 2025 | 17:45 WIB
BAGIKAN
Pengendara motor melintas dekat tumpukan peti kemas di Pelabuhan Lembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, NTB, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
Pengendara motor melintas dekat tumpukan peti kemas di Pelabuhan Lembar, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, NTB, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

JAKARTA,investor.id - Kebijakan tarif balasan atau resiprokal dari pemerintah Amerika Serikat (AS) seharusnya menjadi desakan bagi pemerintah Indonesia untuk memperluas pasar ekspor. Dengan adanya perluasan pasar Indonesia diharapkan bisa meredam dampak kebijakan perang tarif yang dijalankan oleh AS.

“Kebijakan tarif yang dilakukan Presiden Trump juga harus dibaca sebagai panggilan untuk reformasi ekspor nasional. Indonesia selama ini terlalu bergantung pada pasar tradisional seperti AS dan Eropa. Saatnya mempercepat diversifikasi pasar ke Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan,” ucap Ekonom Universitas Andalas  Syafruddin Karimi pada Kamis (3/4/2025).

Dia mengatakan saat ini  pemerintah harus segera mendorong ekspor barang bernilai tambah tinggi agar tak lagi tergantung pada margin harga. Pasalnya bila pemerintah hanya

ADVERTISEMENT

mengekspor produk mentah dan manufaktur murah, maka akan selalu rentan terhadap tekanan tarif dari negara-negara besar.

“Transformasi industri menuju ekspor berbasis inovasi dan teknologi adalah jalan keluar jangka panjang,” kata Syaruddin.

Dia mengatakan Indonesia tidak bisa bersikap reaktif dalam mengantisipasi tarif  resiprokal. Oleh karena itu, pemerintah harus  menjalankan langkah proaktif dengan membangun koalisi dagang berbasis zero tariff bersama negara-negara berkembang lain yang juga menjadi korban kebijakan Trump.

“Kita dapat menawarkan model perdagangan bebas yang benar-benar adil tanpa diskriminasi, tanpa sanksi sepihak, dan berbasis prinsip resiprositas sejati,” tegas dia.

Pemberlakuan  kebijakan tarif resiprokal  bagi Indonesia sebesar 32% dikhawatirkan akan menghambat kinerja ekspor.  Salah satu dampak yang paling terasa adalah kinerja sektor riil khususnya  sektor padat karya.

“Bagi Indonesia, tarif 32% akan menurunkan daya saing ekspor secara drastis, terutama di sektor-sektor padat karya seperti tekstil, furnitur, dan alas kaki. Produk-produk ini bergantung pada harga kompetitif di pasar AS,” terang Syafruddin.

Sebelumnya Donald Trump mengumumkan akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua impor ke negara AS. Bahkan, tarif yang lebih tinggi untuk sejumlah negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Adapun kebijakan tarif balasan ini  diberlakukan  sebesar 34% untuk China dan 20% untuk Uni Eropa, sebagai respons terhadap bea masuk yang diberlakukan pada produk-produk AS. Sedangkan untuk Indonesia sebesar 32% dan tarif tertinggi terlihat akan diberlakukan kepada Vietnam sebanyak 46%. 

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia