Jumat, 15 Mei 2026

Perang Dagang Berkobar, Indonesia Bisa Selamat?

Penulis : Harso Kurniawan
4 Apr 2025 | 21:07 WIB
BAGIKAN
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memegang perintah eksekutif yang telah ditandatangani selama acara pengumuman tarif baru di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, AS pada Rabu (2/4/2025). (Foto: AP/ Evan Vucci)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memegang perintah eksekutif yang telah ditandatangani selama acara pengumuman tarif baru di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, AS pada Rabu (2/4/2025). (Foto: AP/ Evan Vucci)

JAKARTA, Investor.id — Indonesia dinilai mampu menghadapi tantangan perang dagang yang disulut Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Sebab, fundamental ekonomi nasional sejauh ini masih kuat. 

Pemerintah juga sudah mengantisipasi ketidakpastian akibat perang dagang, seperti diplomasi ekonomi. Indonesia juga sudah mengambil langkah besar, yakni bergabung dengan BRICS, yang terdiri atas Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Ini akan memperkuat penetrasi pasar produk-produk Indonesia di negara anggota BRICS tersebut. 

Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, fundamental makro ekonomi yang kuat didukung kebijakan pemerintah mewajibkan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) ditempatkan di dalam negeri 100% selama 12 bulan guna menopang nilai tukar rupiah.

ADVERTISEMENT

“Dengan kebijakan yang berlaku 1 Maret itu, semestinya cadangan devisa menguat ke depannya,” ucap Nafan, Jumat (4/4/2025). 

Nafan mengatakan, cadangan devisa yang kuat membuat keadaan saat ini berbeda dengan saat krisis moneter 1998, yang hanya US$ 15 miliar. Per akhir Februari 2025, cadangan devisa mencapai US$ 154 miliar. 

“Imbasnya, esiliensi kita relatif lebih kuat dalam menghadapi ketidakpastian global, terutama akibat trade fragmentation yang diterapkan oleh Donald Trump,” kata Nafan.

Nafan menyebutkan, masih ada pasar lain di luar AS. Selain China, India menjadi powerhouse pertumbuhan ekonomi global. Kedua negara mencetak pertumbuhan ekonomi di atas 5%, lebih tinggi dari AS yang hanya 2%. 

“Kita bisa memaksimalkan potensi tersebut dan memperkuat kapasitas dan kapabilitas ekspor kita. Sebenarnya peluang sudah kita ambil, tinggal memaksimalkan diplomasi ekonomi kita yang lebih adaptif. Saat ini, Indonesia menerapkan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif,” lanjut dia.

Diketahui, AS menerapkan tarif bea masuk (BM) impor produk asal Indonesia sebesar 32%, naik dari sebelumnya 10%. Ekspor Indonesia ke AS mencapai US$ 26 miliar tahun 2024. 
 

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia