Jumat, 15 Mei 2026

Tarif Resiprokal AS Timbulkan Ketidakpastian Ekonomi ke Tingkat Tertinggi

Penulis : Arnoldus Kristianus
8 Apr 2025 | 17:15 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penetapan tarif balasan atau resiprokal yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap banyak negara menyebabkan ketidakpastian baru bagi perekonomian dunia.

“Presiden Amerika Serikat (Donald Trump) telah mengumumkan penetapan tarif baru, yang langsung memicu lonjakan economic uncertainty ke tingkat tertinggi. Kebijakan ini juga mendorong peningkatan persepsi risiko global,” ucap Airlangga dalam acara Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI di Menara Mandiri pada Selasa (8/4/2025).

Airlangga mengatakan, tekanan beruntun yang terjadi menyebabkan gejolak di pasar keuangan dunia, termasuk pelemahan mata uang negara berkembangn. Imbasnya banyak korporasi global menahan ekspansi dan investasi, konsumsi ikut menurun.

ADVERTISEMENT

Komoditas strategis dunia mengalami penurunan harga, seperti minyak mentah (Brent) yang turun 20%, batu bara turun menjadi US$ 97 per ton, dan crude palm oil (CPO) juga menurun. Di sisi lain, harga kedelai, gandum, dan beras juga menurun. Penurunan harga komoditas global ini akan menahan tekanan inflasi di dalam negeri.

“Satu-satunya komoditas yang mengalami kenaikan adalah emas. Emas kini menjadi instrumen lindung nilai yang penting, di samping dolar AS,” tutur Airlangga.

Di samping itu, Menko Perekonomian mengatakan, ekspor Indonesia ke AS hanya menyumbang 2,2% dari total PDB, jauh di bawah Vietnam yang mencapai 33%. Indonesia justru memiliki fleksibilitas lebih besar, untuk menyeimbangkan neraca perdagangan dengan AS melalui peningkatan impor barang dari AS, seperti minyak, gas, kedelai, gandum, dan alutsista.

Dengan data tersebut diperkirakan dampak perang tarif ke Indonesia bisa diredam. Namun pemerintah juga tetap harus melakukan diversifikasi ekspor tidak hanya bergantung pada negara mitra dagang utama.

“Top ekspor kita adalah China (US$ 60 miliar), Amerika (US$ 26 miliar), dan India (US$ 20 miliar). Nah tentu kita bisa membuka market lain di luar Amerika,” kata Airlangga.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 54 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia