Jumat, 15 Mei 2026

Menko Airlangga Blak-Blakan Kans Resesi Global

Penulis : Bambang Ismoyo
8 Apr 2025 | 18:25 WIB
BAGIKAN
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mewaspadai adanya berbagai dampak imbas adanya kebijakan tarif resiprokal yang diimplementasikan Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia. Bahkan, salah satunya yakni adanya risiko resesi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengungkapkan, kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump berdampak terhadap penurunan harga komoditas. Beberapa komoditas yang dimaksud seperti seperti minyak, batu bara, gandum, minyak sawit (CPO), bahkan beras.

Crude oil turun hampir 30%, Brent juga turun 28%, sehingga angkanya di angka US$ 60-an, batu bara turun ke 24%,” urai Airlangga dalam acara Sosialisasi dan Masukan Asosiasi Usaha terhadap Penerapan Tarif Perdagangan Baru Amerika Serikat Terhadap Negara Mitra, Selasa (8/4/2025).

ADVERTISEMENT

Menurut dia, turunnya harga komoditas itu menandakan permintaan pasar juga menurun. Apabila hal ini berlanjut secara jangka panjang, maka patut mewaspadai adanya risiko resesi yang akan menimpa sejumlah negara.

“Jadi seluruh komoditas turun artinya demand ini akan menahan, dan berdasarkan ini kita harus hati-hati terhadap kemungkinan resesi dunia,” beber Airlangga. Untuk saat ini, pemerintah sedang melakukan kajian untuk melihat dampak dari adanya kebijakan tarif resiprokal AS.

Dari sisi dalam negeri, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kondisi perekonomian nasional masih relatif terjaga, kendati dihadapkan pada tantangan atas ketidakpastian ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 5,03% di akhir 2024.

Dari segi inflasi, Airlangga menyebut relatif terkendali, meskipun angkanya tembus 1,65% year on year (yoy) di akhir Maret 2025 secara. Angka inflasi ini disebut lebih rendah dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan negara G20.

“Inflasi hari ini sudah dilaporkan, itu angkanya sedikit di atas 1%. Dan ini Indonesia termasuk salah satu yang terendah di dunia maupun di global,” ungkap Airlangga.

Indeks keyakinan konsumen pun tetap tinggi di level 126,4 atau berada di atas 100, yang artinya konsumen masih optimis. Dana pihak ketiga (DPK) masih tumbuh di atas 5%.

Cadangan devisa RI juga masih cukup tebal, yaitu US$ 154 miliar atau cukup untuk biaya impor 6,4 bulan dan juga untuk pembayaran utang. Kemudian, dari segi perdagangan, di Februari 2025 Indonesia juga surplus US$ 3,12 miliar, dan surplus berlanjut sepanjang 58 bulan terus menerus.

Dari sisi investasi, daya saing Indonesia menempati peringkat tertinggi berdasarkan International Institute for Management Development (IMD). Dalam laporan tersebut, Indonesia menempati peringkat 27 dari 67 negara, naik 7 peringkat dari tahun lalu di posisi 34, dengan skor 71,52.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia