Perang Dagang Masih Berkobar, Pasar Keuangan Global Bergerak Dinamis
JAKARTA, investor.id – Kondisi pasar keuangan global diyakini masih bergerak dinamis lantaran pengaruh dari kebijakan perang tarif yang dijalankan Amerika Serikat (AS) terhadap banyak negara, khususnya China.
“Rencana AS untuk menerapkan tarif impor sebesar 104% terhadap China setelah negosiasi tarif yang gagal meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global dan mendorong ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve yang lebih agresif pada tahun ini,” ucap Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro dalam pernyataan resmi yang diterima pada Kamis (10/4/2025).
Presiden AS Donald Trump memutuskan menunda penerapan tarif resiprokal selama 90 hari pada mitra dagangnya, namun tidak termasuk China. Data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini juga menjadi salah satu perhatian banyak negara. Bila inflasi menunjukkan tanda-tanda penurunan, hal tersebut dapat memperkuat ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter yang lebih cepat.
Baca Juga:
China Tak Gentar oleh AS“Sebaliknya, inflasi yang tetap tinggi bisa membatasi ruang gerak The Fed, memperbesar ketidakpastian di pasar saham dan obligasi. Selain itu, rilis risalah FOMC juga menjadi fokus perhatian pasar minggu ini,” kata Andry.
Sementara itu di pasar regional, sentimen dari Asia diperkirakan cenderung negatif setelah China bereaksi terhadap tarif AS, meningkatkan ketegangan perdagangan. Investor juga akan mencermati data perdagangan China untuk menilai prospek pertumbuhan regional.
Baca Juga:
Penundaan Tarif Trump Bikin IHSG Ceria“Secara keseluruhan, kombinasi tekanan tarif, arah suku bunga The Fed, serta data ekonomi utama membuat pasar global diproyeksi berfluktuasi dengan kecenderungan risk-off sepanjang minggu ini,” tegas Andry.
Andry mengatakan, ketidakpastian global diperkirakan masih menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas di pasar keuangan domestik dalam jangka pendek. Pihaknya memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak di kisaran 16,830–16,945 per dolar AS, sementara yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di kisaran 7,1%–7,3%.
Menurut dia sentimen positif datang dari rilis data inflasi Indonesia yang tetap terkendali, memperkuat optimisme terhadap stabilitas makroekonomi. Selain itu, pemerintah mengumumkan percepatan belanja fiskal dan program stimulus sektor riil, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025.
“Arahan presiden untuk menghilangkan aturan pembatasan impor juga mendorong optimisme investor terhadap prospek perusahaan dan ekonomi secara keseluruhan,” kata Andry.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






