Rekomendasi DEN Usai Trump Tunda Tarif Resiprokal
JAKARTA, investor.id – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan sejumlah rekomendasi usai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan menunda tarif resiprokal selama 90 hari. DEN, yang bertugas memberi nasihat dan rekomendasi di bidang ekonomi kepada presiden mengungkapkan pentingnya memanfaatkan momentum ini untuk mereformasi perekonomian nasional.
Juru Bicara Ketua DEN, Jodi Mahardi menyampaikan, langkah tersebut bertujuan untuk memperkuat fondasi industri nasional agar mampu bersaing di pasar global. Di samping itu, sebagai upaya untuk menjaga keterjangkauan barang dan jasa bagi masyarakat.
Reformasi perekonomian nasional bukan cuma berorientasi menggenjot ekspor. DEN menginginkan ekonomi yang lebih efisien, produk yang lebih murah untuk rakyat, dan industri dalam negeri yang tumbuh karena diberi dorongan positif, bukan malah dibebankan dengan aturan yang kaku.
“Fokus kita jelas, potong ekonomi biaya tinggi, sederhanakan izin usaha, dan berikan insentif nyata bagi industri yang patuh pada kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN),” kata Jodi pada Kamis (10/4/2025), seperti ditukil dari Antara.
Ia secara khusus menyinggung aturan TKDN. DEN berpandangan bahwa aturan TKDN tetap penting, meskipun perlu penyesuaian pendekatan, yakni dari kewajiban menjadi insentif. “Industri yang menggunakan komponen lokal harus diberi keuntungan, bukan dihambat oleh proses teknis yang panjang dan tidak produktif,” kta Jodi.
Sementara menyikapi putusan Trump yang tetap memberlakukan tarif tinggi ke China, DEN melihatnya sebagai peluang strategis bagi Indonesia. Meski akan berdampak secara global, perlakuan Trump ke China tetap bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik realokasi investasi dan memperluas pasar ekspor. Ini dapat dilakukan hanya dengan pendekatan yang lebih bersahabat, berikut penawaran insentif yang tepat.
Sebelumnya keputusan penundaan dari Trump, Indonesia merespons tarif resiprokal AS melalui jalur negosiasi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut jalur diplomasi dipilih sebagai solusi yang saling menguntungkan tanpa mengambil langkah retaliasi terhadap kebijakan tarif resiprokal tersebut.
Namun demikian, Pemerintah Indonesia akan melakukan pertemuan lebih dulu dengan pimpinan negara-negara Asean pada 10 April 2025 untuk menyamakan sikap. Hasilnya, negara-negara Asean menyepakati untuk berunding dengan AS.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler





