Kamis, 14 Mei 2026

Ekspor Garmen RI ke AS Terancam Tarif hingga 47%

Penulis : Arnoldus Kristianus
18 Apr 2025 | 11:16 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) dalam konferensi pers bertajuk "Perkembangan Terkini Negosiasi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia-Amerika Serikat" di Washington, DC, yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat (18/4/2025). (ANTARA/Putu Indah Savitri)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (tengah) dalam konferensi pers bertajuk "Perkembangan Terkini Negosiasi dan Diplomasi Perdagangan Indonesia-Amerika Serikat" di Washington, DC, yang dipantau secara daring di Jakarta, Jumat (18/4/2025). (ANTARA/Putu Indah Savitri)

JAKARTA, investor.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan bahwa dengan penerapan tarif balasan (resiprokal) oleh Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia, ekspor produk garmen bisa terkena tarif hingga 47%.

Pengenaan tarif dijalankan dalam dua bentuk. Pertama, tarif baseline dan tarif balasan (resiprokal). Tarif baseline diterapkan sebesar 10% yang diberlakukan untuk semua negara. Tarif resiprokal diterapkan berbeda-beda untuk setiap negara. Untuk tarif resiprokal, Indonesia dikenakan sebesar 32%.

Dengan langkah Pemerintah Amerika Serikat yang melakukan penundaan tarif resiprokal selama 90 hari, semua negara terkena tarif tambahan dalam bentuk baseline sebesar 10%. Untuk tarif normal, produk garmen di kisaran 10-37% ditambah pengenaan tarif baseline sebesar 10%, maka total tarif terhadap produk ekspor garmen dari Indonesia ke Amerika Serikat berkisar 20%-47%.

ADVERTISEMENT

“Dengan berlakunya tarif selama 90 hari sebesar 10%, maka tarif rata-rata Indonesia yang khusus tekstil garmen ini kan antara 10% sampai dengan 37%, maka dengan diberlakukannya 10% tambahan, tarifnya itu menjadi 10% ditambah 10% ataupun 37% ditambah 10%,” jelas Airlangga dalam konferensi pers secara virtual pada Jumat (18/10/2025).

Penambahan tarif ini menjadi salah satu fokus negosiasi dengan AS. Sebab penambahan tarif ini akan membebani eksportir Indonesia khususnya sektor-sektor yang terkena tarif tersebut.

“Dengan tambahan 10%, ekspor kita biayanya lebih tinggi karena tambahan biaya itu diminta oleh para pembeli agar di-sharing dengan Indonesia, bukan pembelinya saja yang membayar pajak tersebut,” tutur Airlangga.

Dia menegaskan, produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat yang terkena lebih tinggi dari negara Asean maupun non Asean adalah garmen, alas kaki, tekstil, furnitur, dan udang. Saat ini pemerintah Indonesia sedang mengutus tim delegasi untuk melakukan negosiasi dengan Pemerintah Amerika Serikat agar ada penerapan tarif yang berimbang antara dua negara tersebut.

“Indonesia meminta, jadi apabila Amerika sudah diberikan tarif berimbang, maka Indonesia juga mengharap kepada 20 produk unggulan Indonesia yang ekspor ke Amerika diberikan tarif yang seimbang pula,” ungkap Airlangga.

Ada beberapa kebijakan dalam negosiasi Indonesia dengan AS. Pertama, deregulasi Non-Tariff Measures (NTMs) melalui relaksasi TKDN sektor ICT dari AS, serta evaluasi larangan terbatas dan percepatan halal. Kedua, peningkatan impor dan investasi dari AS.

Ketiga, menyiapkan insentif fiskal dan nonfiskal dalam bentuk penurunan bea masuk, pajak penghasilan (PPh) impor, pajak pertambahan nilai (PPN) impor. Insentif-insentif tersebut diharapkan dapat mendorong impor dari Amerika Serikat dan menjaga daya saing ekspor ke Amerika Serikat.

“Terkait dengan non-tariff measures, ada beberapa hal yang diminta. Karena itu, Indonesia juga sudah menyampaikan dokumen untuk merespons yang terkait dengan non-tariff measures tersebut,” pungkas Airlangga.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 16 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 33 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia