Jumat, 15 Mei 2026

Inflasi Rendah Jadi Alarm Bagi Pertumbuhan Ekonomi Domestik

Penulis : Arnoldus Kristianus
28 Apr 2025 | 13:05 WIB
BAGIKAN
 Direktur Eksekutif Segara Research Institute  Piter Abdullah Redjalam dalam diskusi yang berlangsung secara daring pada Senin (28/4/2025).
Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah Redjalam dalam diskusi yang berlangsung secara daring pada Senin (28/4/2025).

JAKARTA,investor,id - Kondisi inflasi yang hanya mencapai 1,03% pada Maret 2025 diperkirakan menjadi salah satu penyebab perekonomian akan melambat pada tahun 2025. Saat inflasi berada dalam kondisi rendah maka akan memberikan dampak ke pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Pemerintah menargetkan inflasi pada kisaran 2,5±1% pada tahun 2025 ini. Pada Januari sampai Februari 2025 terjadi deflasi secara beruntun. Inflasi baru terjadi pada Maret 2025. Hal ini menjadi alarm terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi nasional.

“Inflasi yang sangat rendah saat ini sampai di kisaran 1% itu sebenarnya sesuatu yang perlu kita khawatirkan. Sebab ini adalah cerminan kondisi tidak cukupnya demand yang bisa berdampak kepada tidak cukupnya pertumbuhan ekonomi nantinya,” ucap Direktur Eksekutif Segara Research Institute  Piter Abdullah Redjalam dalam diskusi yang berlangsung secara daring pada Senin (28/4/2025).

ADVERTISEMENT

Pada tahun 2025 ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2%. Namun Dana Moneter Internasional  (International Monetary Fund/IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 hanya akan mencapai 4,7%. Sedangkan inflas diperkirakan di angka 2,3%.

Piter mengatakan konsumsi rumah tangga merupakan penyokong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Saat kinerja konsumsi tidak berjalan optimal maka pertumbuhan ekonomi nasional juga akan terhambat.

“Konsumsi kita sulit kita berharap tinggi ketika daya beli itu turun. Kemampuan masyarakat untuk berkonsumsi itu rendah. Tentu itu akan menyebabkan peran dari konsumsi di dalam mendorong pertumbuhan ekonomi akan terbatas,” kata Piter.

Oleh karena itu, pemerintah harus mengantisipasi pelemahan daya beli ini.  Bila pelemahan daya beli berlanjut pemerintah akan kesulitan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di tahun 2025 ini.

“Ini adalah kondisi yang saya kira perlu kita cermati. Dengan kondisi yang seperti ini kita sangat sulit untuk mengharapkan pertumbuhan ekonomi kita akan bisa setidak-tidaknya mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang sudah ada,” kata Piter.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 9 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 41 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 52 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 56 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia