ISEAI: Rupiah Rp 17.500, Ancaman “Normal Baru” Ekonomi RI
JAKARTA, investor.id – Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) memperingatkan pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dapat menjadi “normal baru” jika pemerintah gagal melakukan reformasi struktural ekonomi.
Pengamat Ekonomi ISEAI, Ronny P Sasmita, mengatakan bahwa pelemahan rupiah sejak awal 2026 bukan semata-mata akibat lemahnya respons teknis Bank Indonesia (BI), melainkan dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik. Kondisi tersebut perlu menjadi alarm serius bagi pengelola kebijakan ekonomi nasional.
“Kegagalan Bank Indonesia dalam menahan pelemahan ini bukan semata-mata karena ketidakmampuan teknis, melainkan karena besarnya kekuatan eksternal yang menghantam fundamental domestik yang memang sudah rapuh,” ujar Ronny dalam pernyataan resmi yang diterima, Rabu (13/5/2026).
Ia menilai, tanpa transformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan impor energi dan memperbaiki iklim investasi pasar modal, level Rp 17.500 per dolar AS berpotensi menjadi titik keseimbangan baru yang merugikan pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Pada perdagangan Rabu sore, rupiah ditutup menguat 53 poin ke level Rp 17.475 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.528 per dolar AS. Namun, posisi tersebut masih jauh di bawah asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 sebesar Rp 16.500 per dolar AS.
Ronny menjelaskan, tren pelemahan rupiah sebenarnya telah berlangsung sejak akhir 2025. Sepanjang tahun lalu, rupiah bergerak di kisaran rata-rata Rp 16.475 per dolar AS sebelum tekanan meningkat menjelang pergantian tahun.
Baca Juga:
Rupiah Balik Arah Usai Digempur TekananMemasuki Januari 2026, rupiah melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS seiring keluarnya aliran modal asing (capital outflow) sebesar US$1,6 miliar dalam waktu kurang dari tiga pekan. Tekanan semakin besar pada kuartal II-2026 ketika rupiah menembus level psikologis Rp 17.000 per dolar AS pada awal April. Menurut Ronny, kondisi itu menjadi sinyal bahwa intervensi BI mulai menghadapi keterbatasan efektivitas.
“Meskipun sempat terjadi penguatan teknis selama beberapa hari pada awal Mei, sentimen negatif kembali mendominasi pasar hingga akhirnya mencatatkan pelemahan terdalam di level Rp 17.425 pada 5 Mei 2026, sebelum akhirnya menyerah pada tekanan pasar dan menembus Rp 17.505 pada 12 Mei 2026,” jelasnya.
Dari sisi domestik, ISEAI menilai struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia juga belum cukup kuat menopang stabilitas rupiah. Meski ekonomi triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan, pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, termasuk penyaluran THR dan bantuan sosial.
Empat Rekomendasi
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Jumat 15 Mei 2026
Harga emas Antam (ANTM) diperkirakan bergerak menguat pada Jumat,15 Mei 2026. Harga emas Antam diprediksi naik ke level iniKenaikan Pangkat Kapolda Metro Jaya Dinilai sebagai Langkah Strategis
Pengamat sosial Dr. Serian Wijatno menilai kenaikan pangkat Irjen Pol Asep Edi Suheri menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) sebagai Kapolda Metro Jaya merupakan langkah strategis di tengah kompleksitas tantangan keamanan di Jakarta.Tag Terpopuler
Terpopuler






