Tren PHK Meningkat, Apindo: Masalahnya Kompleks, Ekonomi Melemah Sejak 2019
JAKARTA, investor.id – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam angkat bicara perihal tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan naiknya angka pengangguran. Dia menyebut, fenomena PHK ini disebabkan sejumlah masalah yang kompleks, imbas adanya pelemahan perekonomian sejak beberapa tahun belakangan.
“PHK kompleks ya. Jadi ada persoalan yang sifatnya struktural, panjang. Ada persoalan-persoalan perekonomian yang memang sudah melemah sejak tahun 2019, bukan baru lagi,” ungkap Bob Azam di Jakarta, Rabu (7/5/2025).
Menurut dia, maraknya PHK saat ini tak terlepas dari situasi perekonomian dalam beberapa tahun terakhir di tingkat domestik dan global. Sejak 2019, telah terjadi sejumlah peristiwa seperti pademi Covid-19, konflik Rusia-Ukraina, konflik di Timur Tengah, dan belakang perang dagang yang diinisiasi oleh AS melalui tarif resiprokal.
Bob mengatakan, PHK tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di sejumlah negara lainnya. Seperti Singapura, sebuah perusahaan perbankan di sana kabarnya akan melakukan PHK dalam jumlah yang sangat besar. Di samping kondisi perekonomian, PHK yang terjadi di salah satu bank di Singapura itu karena kebijakan transformasi digital, yang pada gilirannya akan menyebabkan efisiensi sumber daya manusia.
Berkaca dari sederet masalah yang ada, Bob menyatakan bahwa saat ini pemerintah harus fokus mendukung dunia usaha agar dapat menciptakan jumlah lapangan kerja yang besar. Alih-alih melihat angka PHK, sebaiknya fokus menciptakan lapangan kerja.
“Persoalannya bagaimana yang PHK bisa dapat kerja lagi. Itu sebenarnya yang kita harus siapkan. Jadi kita terlalu banyak konsentrasi di PHK, tapi lupa bagaimana menciptakan lapangan kerja. Itu yang jauh lebih penting,” pungkas dia.
Di kesempatan berbeda, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyampaikan, PHK secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Hal ini bisa berbahaya karena akan memengaruhi konsumsi rumah tangga yang jadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Daya beli akan terpengaruh. Ketika daya beli terpengaruh, konsumsi turun. Konsumsi domestik sebagai salah satu motor mendorong pertumbuhan di tengah ekspor yang tidak seperti dahulu lagi, tentu akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi,” ucap Erwin, Rabu (7/5/2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 tercatat sebesar 4,87%. Komponen konsumsi rumah tangga menjadi penyumbang terbesar dari sisi pengeluaran yaitu 54,53%. Komponen ini masih mampu tumbuh 4,89% pada kuartal I-2025.
Erwin menambahkan, tekanan ekonomi global juga berdampak pada kinerja ekspor Indonesia. Ketika ekspor tidak berjalan optimal, industri ikut terdampak. Kondisi ini dikhawatirkan memicu PHK dan peningkatan angka pengangguran.
“Implikasinya adalah kemampuan korporasi dalam menahan dampak pelemahan penjualan. Apabila industri terus melemah, dikhawatirkan akan terjadi peningkatan PHK,” ujar Erwin.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






