Pengurangan Outstanding SRBI Tingkatkan Demand di Pasar Obligasi
JAKARTA,investor.id – Mandiri Sekuritas menilai langkah Bank Indonesia (BI) mengurangi outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) berimbas pada kenaikan permintaan di pasar obligasi meningkat.
“Kalau kita lihat SRBI juga trennya semakin menurun rate-nya dan outstanding-nya juga turun ini membuat demand untuk obligasi juga mulai ada perbaikan,” ucap Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto dalam media briefing secara virtual pada Senin (19/5/2025).
Berdasarkan data BI per 21 April 2025, outstanding SRBI mencapai Rp 881,86 triliun, atau terjadi penurunan sebesar Rp 41,67 triliun dari posisi pada Desember 2024 sebesar Rp 923,53 triliun.
Handy mengatakan meski ada potensi pelebaran defisit fiskal tetapi penawaran surat utang pemerintah di pasar sangat terkendali. Lantaran pemerintah menjalankan strategi pembiayaan secara frontloading dan prefunding yang menghadirkan ketersediaan surat utang pemerintah di pasar keuangan. Hal ini akan mendorong tekanan supply di pasar keuangan akan jauh berkurang.
“Dari sisi supply kami masih cukup yakin bahwa supply surat utang negara masih akan sangat manageable. Dari sisi demand concern terbesar tentu datang dari perbankan karena perbankan mencatatkan net sale 2 tahun berturut-turut di tahun 2023 dan 2024,” kata Handy.
Secara terpisah, pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Tika Widiastuti mengtakan dari sisi investor asing, kebijakan pengurangan outstanding SRBI bisa berdampak dua arah. Di satu sisi, turunnya suku bunga jangka pendek dapat menurunkan daya tarik instrumen pasar uang domestik, khususnya jika imbal hasilnya menjadi kurang kompetitif dibandingkan aset serupa di negara lain.
“Namun di sisi lain, bila kebijakan ini diambil dalam konteks stabilitas makroekonomi yang terjaga, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan yang baik, maka Indonesia tetap menjadi tujuan menarik bagi investor asing, terutama pada instrumen jangka menengah dan panjang seperti SBN (surat berharga negara),” kata Tika.
Dia mengatakan dengan pengurangan outstanding SRBI maka perbankan memiliki dana lebih yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan ekonomi, seperti penyaluran kredit kepada sektor riil atau pembelian instrumen keuangan lain seperti obligasi pemerintah dan korporasi. Dengan likuiditas yang meningkat, tekanan pada suku bunga pasar uang antarbank juga berpotensi menurun, sehingga dapat mendorong suku bunga pinjaman menjadi lebih kompetitif. Hal ini turut mendukung pemulihan ekonomi melalui peningkatan konsumsi dan investasi.
“Dampaknya terhadap likuiditas sangat bergantung pada respons perbankan dan sektor riil; jika dana yang kembali ke pasar digunakan secara produktif, maka pelonggaran ini akan memberikan dorongan positif terhadap perekonomian secara keseluruhan,” tutur Tika.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






