Jumat, 15 Mei 2026

Pemerintah Sudah Kucurkan Rp 46,9 Triliun untuk Jaga Ketahanan Pangan

Penulis : Arnoldus Kristianus
2 Jul 2025 | 13:17 WIB
BAGIKAN
Petugas mengecek stok bantuan pangan beras di gudang Bulog Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (23/6/2025). (ANTARA FOTO/Arnas Padda)
Petugas mengecek stok bantuan pangan beras di gudang Bulog Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (23/6/2025). (ANTARA FOTO/Arnas Padda)

JAKARTA,investor.id - Pemerintah telah membelanjakan anggaran sebesar Rp 46,9 triliun untuk ketahanan pangan pada semester I-2025.  Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year) terjadi pertumbuhan 47,5%. Anggaran ini digunakan untuk  mendorong produksi dan stok pangan nasional.

“Pertumbuhan tahunan realisasi anggaran ketahanan pangan pada semester I-2025 mencapai 47,5%. Angka ini cukup tinggi, tahun lalu tumbuh 31,4% dan tahun ini lebih tinggi lagi menjadi 47,5%,” ucap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR pada Selasa (2/7/2025).

Bila dirinci realisasi anggaran untuk mencetak sawah dan intensifikasi lahan 51,3 ribu ha  mencapai Rp 2,3 triliun; untuk irigasi  mencapai Rp 1,3 triliun; membangun bendungan memakan anggaran  Rp 1,4 triliun; hingga bantuan alsintan dan sarana produksi pertanian menggunakan anggaran Rp 2,6 triliun.

ADVERTISEMENT

Pemerintah juga menyalurkan anggaran sebesar Badan Urusan Logistik (Bulog) sebesar Rp 16,6 triliun. Anggaran ini untuk melakukan stabilisasi harga gabah senilai Rp 10,7 triliun dan stabilisasi harga beras sebesar Rp 5,9  triliun.

“Stok beras yang dipegang oleh Bulog mencapai 4,1 juta ton, tertinggi dalam 57 tahun terakhir selama Bulog beroperasi,” tutur Sri Mulyani.

Pemerintah juga membelanjakan anggaran  sebesar Rp 10,3 triliun untuk menyediakan 3,7 ton pupuk bersubsidi. Dari pelaksanaan tersebut tercatat produksi beras nasional periode Januari sampai  Juni 2025 meningkat 13,2% secara tahunan. Penyederhanaan tata kelola pupuk bersubsidi melalui pemangkasan 145 Regulasi sehingga terjadi  peningkatan produktivitas.

“Ini adalah salah satu operasi dengan deregulasi  dengan jumlah pupuk yang sama tetapi cara yang berbeda sehingga  memberikan hasil yang berbeda,” terang Sri Mulyani.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 3 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia