Daya Tawar Indonesia Tinggi, Tarif AS Masih Bisa Diupayakan 10-15%
JAKARTA, investor.id – Presiden Prabowo Subianto mengaku belum puas terhadap hasil negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) yang membuahkan tarif untuk produk-produk Indonesia sebesar 19%, dari yang dipatok sebelumnya 32%. Sementara produk-produk AS yang masuk ke Indonesia bebas tarif atau 0%.
“Kalau puas ya 0%,” kata Presiden Prabowo kepada wartawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (16/7/2025), usai kunjungan kenegaraaan selama dua pekan ke sejumlah negara.
Di sela-sela pernyataan persnya itu, Kepala Negara juga telah menyatakan bahwa dalam hal negosiasi, Indonesia harus tegas memposisikan diri. “Kita juga punya sikap: ini tawaran kita, kita tidak mampu memberi lebih,” kata Prabowo.
Terlebih, kata Presiden, perekonomian Indonesia kuat dan dalam kondisi yang aman. Ini menjadi data tawar untuk bernegosiasi ke depan, sehingga ia mengaku tak menutup ruang untuk kembali berunding dengan Presiden AS Donald Trump tentang besaran tarif.
“Ya saya tetap nego,” kata Prabowo, seraya memuji Trump sebagai negosiator yang ‘cukup keras’.
Di sisi lain, Ekonom Celios, Nailul Huda menilai kesepakatan baru tarif AS dan Indonesia dinilai bukanlah suatu kemenangan. Jika tarif 19% untuk Indonesia dan 0% untuk AS itu benar-benar ditetapkan, maka dapat dikatakan bahwa pada akhirnya Indonesia menyerah dalam negosiasi tarif impor dengan AS. Tarif impor itu menjadi timpang, tidak adil.
Sebagai perbandingan, Huda mencontohkan hasil negosiasi Vietnam. Meski Indonesia dikenakan tarif 1% lebih rendah daripada Vietnam yang memperoleh tarif 20%, namun penurunan tarif AS untuk Vietnam cukup drastis dari awalnya 46%.
Menurut dia, Indonesia memiliki daya tawar yang lebih tinggi daripada Vietnam. Dalam hal ini, Vietnam memiliki ketergantungan ekspor ke AS. Vietnam sendiri mencatat AS sebagai pasar ekspor utama dan terbesar. Sementara itu, tujuan terbesar ekspor Indonesia adalah China.
“Kami berpikir tarif bisa lebih rendah lagi daripada 19%, harusnya bisa 10-15%. Kita negosiasinya cukup kalah dibandingkan Vietnam, mereka lebih efektif negosiasi dengan AS,” ucap Huda dalam program Investor Daily Talk, Kamis (17/7).
Daya Tawar Indonesia
Menurut Huda, pemerintah Indonesia tidak mampu memanfaatkan kekuatan yang ada untuk mencapai hasil negosiasi yang lebih baik. Indonesia punya daya tawar berupa crude palm oil (cpo) atau minyak kelapa sawit kepada AS.
Dia menyatakan bahwa Indonesia tidak memaksimalkan kekuatan sebagai produsen terbesar sawit di dunia. Meski sudah ada komoditas substitusi CPO yakni minyak bunga matahari, namun minyak sawit dianggap masih sangat dibutuhkan oleh AS.
“Seharusnya sawit dijadikan sebagai peluru dalam negosiasi dengan Amerika. Entah apakah pemerintah tidak mengandalkan peluru tersebut atau AS memang lebih kuat untuk menangkis peluru itu,” imbuh Huda.
Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa tim negosiator yang dikirim ke AS oleh Prabowo Subianto patut dievaluasi. Terlebih lagi, kesepakatan baru ini malah membuka akses sebesar-besarnya untuk AS seiring tarif 0% bagi produk Amerika ke Indonesia.
Dia juga menjelaskan, efek bebas tarif dan hambatan non tarif untuk AS berpotensi membuat penerimaan negara berkurang. Apalagi, industri dalam negeri yang belum mampu bersaing di ranah global akan tertekan kehadiran produk-produk AS, khususnya di sektor industri teknologi.
Tak hanya itu, Indonesia disebut berkomitmen membeli energi dari AS senilai US$ 15 miliar dan produk agrikultur senilai US$ 4,5 miliar. Indonesia juga berkomitmen membeli 50 pesawat Boeing baru, yang sebagian besar adalah Boeing 777.
“Saya rasa negosiator yang dikirim patut dievaluasi. Tadinya kita menerapkan tarif ke AS, sekarang malah tidak tarif ada sama sekali,” tandas Huda.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






