Jumat, 15 Mei 2026

Belanja Negara Dipacu untuk Dongkrak Ekonomi Semester II

Penulis : Arnoldus Kristianus
24 Jul 2025 | 15:08 WIB
BAGIKAN
Pejabat pemerintah melihat Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2025 di Istana Negara, Jakarta. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr)
Pejabat pemerintah melihat Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2025 di Istana Negara, Jakarta. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Muchlis Jr)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan pemerintah akan menggenjot belanja negara pada semester II-2025 agar pertumbuhan ekonomi bisa kembali berada dalam target 5,2%.

“Pemerintah mempercepat belanja, karena banyak program prioritas Pak Presiden (Prabowo Subianto) yang harus kami percepat semua. Jadi itu nanti akan mendukung rebound untuk semester II-2025,” ucap Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu di Gedung DPR pada Kamis (24/7/2025).

Salah satu konsekuensi percepatan belanja negara adalah pelebaran defisit pada akhir tahun 2025 ini. Pada semester I-2025 APBN telah mengalami defisit sebesar Rp 204,24 triliun.

ADVERTISEMENT

Pemerintah memperkirakan defisit APBN 2025 akan melebar menjadi Rp 662 triliun dari target sebelumnya yang sebesar Rp 616,2 triliun. Jika dilihat dari perbandingan defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maka terjadi kenaikan dari 2,53% dari PDB menjadi 2,78% dari PDB.

Outlook defisit APBN adalah 2,87% dari PDB, ini akan melibatkan masih banyak sekali belanja pemerintah yang harus dieksekusi dengan lebih cepat,” terang Febrio.

Namun demikian, belanja negara ini dimaksudkan untuk berperan lebih mendorong perekonomian nasional pada semester II-2025. Ini akan didukung output dari hasil negosiasi perdagangan Indonesia-Amerika Serikat (AS).

Belanja Negara Dipacu untuk Dongkrak Ekonomi Semester II
Proyeksi ekonomi beberapa negara tahun 2025. (Ilustrasi: Investor Daily, B-Universe Research)

Dengan adanya perubahan penetapan tarif bea masuk dari 32% ke 19%, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dipercaya akan semakin meningkat. Besaran tarif ini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia karena lebih rendah dari negara-negara lain di Asean. 

“Kalau tadinya kita sudah terancam dengan pertumbuhan yang cukup lemah di 4,7%. Dengan tarif yang lebih baik ini kita melihat pertumbuhan ekonomi bisa rebound di atas 5% untuk paruh kedua,” tutur Febrio.

Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 45, Reyhan Noor mengatakan, belanja pemerintah memiliki peranan besar terhadap geliat pertumbuhan ekonomi domestik. Hal ini terlihat langsung saat pemerintah menjalankan efisiensi anggaran belanja, maka pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,87% pada kuartal I-2025.

Belanja Negara Dipacu untuk Dongkrak Ekonomi Semester II
Distribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025. (Ilustrasi: Investor Daily)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 1,38% pada kuartal I-2025. Konsumsi pemerintah memberikan kontribusi 5,88% ke pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025.

“Belanja pemerintah sangat penting untuk mendukung pertumbuhan seperti yang terlihat kurang optimalnya pertumbuhan pada kuartal pertama kemarin akibat efisiensi,” kata Reyhan.

Menurut dia, bila dilihat secara siklus serapan anggaran cenderung meningkat pada semester kedua. Dalam meningkatkan serapan tersebut, salah satu program yang diperhatikan adalah pelaksanaan program strategis nasional seperti makan bergizi gratis (MBG).

“Potensi MBG terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar sehingga dengan serapan anggaran yang baik diharapkan mampu memacu pertumbuhan,” terang Reyhan.

Reyhan mendorong serapan belanja harus dioptimalkan betul dan jangan sampai ada sisa anggaran terlalu besar. Besarnya sisa anggaran menandakan perencanaan dan implementasi tidak optimal. “Padahal pemerintah sudah menerbitkan utang dan membayar bunganya untuk membiayai rencana belanja tersebut,” tutur Reyhan.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia