Belanja Negara Dipacu untuk Dongkrak Ekonomi Semester II
JAKARTA, investor.id – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengatakan pemerintah akan menggenjot belanja negara pada semester II-2025 agar pertumbuhan ekonomi bisa kembali berada dalam target 5,2%.
“Pemerintah mempercepat belanja, karena banyak program prioritas Pak Presiden (Prabowo Subianto) yang harus kami percepat semua. Jadi itu nanti akan mendukung rebound untuk semester II-2025,” ucap Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu di Gedung DPR pada Kamis (24/7/2025).
Salah satu konsekuensi percepatan belanja negara adalah pelebaran defisit pada akhir tahun 2025 ini. Pada semester I-2025 APBN telah mengalami defisit sebesar Rp 204,24 triliun.
Pemerintah memperkirakan defisit APBN 2025 akan melebar menjadi Rp 662 triliun dari target sebelumnya yang sebesar Rp 616,2 triliun. Jika dilihat dari perbandingan defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maka terjadi kenaikan dari 2,53% dari PDB menjadi 2,78% dari PDB.
“Outlook defisit APBN adalah 2,87% dari PDB, ini akan melibatkan masih banyak sekali belanja pemerintah yang harus dieksekusi dengan lebih cepat,” terang Febrio.
Namun demikian, belanja negara ini dimaksudkan untuk berperan lebih mendorong perekonomian nasional pada semester II-2025. Ini akan didukung output dari hasil negosiasi perdagangan Indonesia-Amerika Serikat (AS).
Baca Juga:
Mempertajam Prioritas Belanja NegaraDengan adanya perubahan penetapan tarif bea masuk dari 32% ke 19%, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat dipercaya akan semakin meningkat. Besaran tarif ini akan meningkatkan daya saing produk Indonesia karena lebih rendah dari negara-negara lain di Asean.
“Kalau tadinya kita sudah terancam dengan pertumbuhan yang cukup lemah di 4,7%. Dengan tarif yang lebih baik ini kita melihat pertumbuhan ekonomi bisa rebound di atas 5% untuk paruh kedua,” tutur Febrio.
Koordinator Analis Laboratorium Indonesia 45, Reyhan Noor mengatakan, belanja pemerintah memiliki peranan besar terhadap geliat pertumbuhan ekonomi domestik. Hal ini terlihat langsung saat pemerintah menjalankan efisiensi anggaran belanja, maka pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 4,87% pada kuartal I-2025.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) konsumsi pemerintah mengalami kontraksi 1,38% pada kuartal I-2025. Konsumsi pemerintah memberikan kontribusi 5,88% ke pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025.
“Belanja pemerintah sangat penting untuk mendukung pertumbuhan seperti yang terlihat kurang optimalnya pertumbuhan pada kuartal pertama kemarin akibat efisiensi,” kata Reyhan.
Menurut dia, bila dilihat secara siklus serapan anggaran cenderung meningkat pada semester kedua. Dalam meningkatkan serapan tersebut, salah satu program yang diperhatikan adalah pelaksanaan program strategis nasional seperti makan bergizi gratis (MBG).
“Potensi MBG terhadap pertumbuhan ekonomi sangat besar sehingga dengan serapan anggaran yang baik diharapkan mampu memacu pertumbuhan,” terang Reyhan.
Reyhan mendorong serapan belanja harus dioptimalkan betul dan jangan sampai ada sisa anggaran terlalu besar. Besarnya sisa anggaran menandakan perencanaan dan implementasi tidak optimal. “Padahal pemerintah sudah menerbitkan utang dan membayar bunganya untuk membiayai rencana belanja tersebut,” tutur Reyhan.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






