Jumat, 15 Mei 2026

Iklim Investasi Diperbaiki untuk Meredam Dampak Tarif Trump

Penulis : Arnoldus Kristianus
8 Aug 2025 | 14:48 WIB
BAGIKAN
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. (Investor Daily/Arnoldus Kristianus)

JAKARTA, investor.id – Indonesia resmi mendapatkan tarif bea masuk ke Amerika Serikat (AS) sebesar 19% untuk produk ekspor mulai 7 Agustus 2025. Perbedaan tipis besaran tarif dengan negara lain mendorong pemerintah harus menjaga daya saing ekspor dengan terus memperbaiki iklim investasi secara menyeluruh.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan meski tarif 19% termasuk rendah tetapi perbedaan tarif hanya sedikit antar negara. Oleh karena itu, pemerintah konsisten meningkatkan daya saing agar kinerja perdagangan tetap prima.

“Justru kita harus menjaga betul daya saing kita sebab ekspor itu daya saingnya tidak hanya urusan tarif. Misalnya untuk urusan iklim investasi, biaya logistik dan industri, kira-kira efisien atau tidak? Nah itu yang kami jaga,” kata Susiwijono di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Jumat (8/8/2025).

Susiwijono mengatakan, selain melakukan negosiasi tarif pemerintah juga melakukan deregulasi. Sebab deregulasi menjadi kunci untuk memacu daya saing usaha. Komponen daya saing usaha yang dibenahi yaitu perizinan hingga komponen struktur biaya agar bisa lebih efisien.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar selama Januari sampai Juni 2025. Adapun surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS mencapai US$ 9,92 miliar.

Nilai ekspor ke AS mencapai US$ 14,79 miliar dan impor mencapai US$ 4,87 miliar. Tiga komoditas penyumbang surplus terbesar adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya sebesar US$ 2,19 miliar; pakaian dan aksesorisnya (rajutan) sebesar US$ 1,28 miliar; alas kaki sebesar US$ 1,27 miliar.

Susiwijono tidak menampik bahwa kenaikan ekspor ke AS terjadi karena para eksportir melakukan front loading sebelum tarif berlaku. Apalagi rencana pengenaan bea masuk tersebut sudah diumumkan dari beberapa bulan sebelumnya.

“Kalau front loading itu perilaku yang ditempuh di seluruh eksportir tidak semua negara. Jadi pasti ya, kalau kamu, Anda dikasih tahu 6 bulan ke depan tarif akan tinggi ya sebisa mungkin kan ekspornya sekarang,” tutur Susiwijono.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia