Geber Pembiayaan, Pemerintah akan Tarik Utang Rp 781,86 Triliun pada 2026
JAKARTA,investor.id - Pemerintah akan melakukan penarikan utang sebesar Rp 781,86 triliun pada tahun 2026. Kebijakan pembiayaan utang tahun 2026 diarahkan sebagai instrumen penguatan counter cyclical yang dikelola secara prudent dan sustainable.
“Pengelolaan utang senantiasa memperhatikan prinsip kehati-hatian, mengutamakan pembiayaan innovative, prudent, dan sustainable dalam mendukung percepatan transformasi ekonomi inklusif dan berkelanjutan,” dikutip dari buku II Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2026 pada Jumat (15/8/2025).
Baca Juga:
Tergerus Pembayaran Utang Luar NegeriKementerian Keuangan (Kemenkeu) akan menjalankan tiga langkah dalam pengelolaan utang. Pertama yaitu mengendalikan utang dalam batas aman dan manageable. Kedua yaitu mendukung kebijakan fiskal yang ekspansif untuk mendukung agenda pembangunan dengan tetap menjaga keberlanjutan fiskal dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.
Ketiga yaitu pengelolaan utang senantiasa memperhatikan prinsip kehati-hatian dan terukur, serta mendorong pembiayaan inovatif yang sustainable dalam mendukung percepatan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Keempat yaitu menerbitkan SBN dengan biaya dan risiko yang optimal dan terkendali serta menjaga prinsip transparansi dan integritas pasar serta disiplin fiskal.
Pembiayaan utang akan dijalankan melalui penerbitan surat berharga negara (SBN) dan penarikan pinjaman. Pembiayaan utang yang berasal dari SBN akan dipenuhi melalui penerbitan surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN)/sukuk negara.
Pemerintah akan menerbitkan SBN senilai Rp 749,2 triliun pada tahun 2026. Penguatan sisi penawaran instrumen SBN, yang dilaksanakan dengan memprioritaskan penerbitan SBN di pasar domestik untuk mendukung pendalaman dan stabilitas pasar keuangan; menerbitkan SBN dalam mata uang asing (valas) sebagai pelengkap dalam rangka diversifikasi dan perluasan basis investor; mengelola portofolio SBN secara aktif antara lain melalui liability management; serta melakukan diversifikasi instrumen SBN untuk mendukung pengembangan dan pendalaman pasar SBN, mengurangi fragmentasi pasar, serta mengendalikan risiko utang.
Pemerintah akan menjalankan penarikan pinjaman sebesar Rp 32,7 triliun pada tahun 2026. Angka ini turun 74,9% dibandingkan outlook tahun 2025 sebesar Rp 130,3 triliun. Pinjaman neto tersebut akan dipenuhi melalui pinjaman dalam negeri neto sebesar negatif Rp 6,53 triliun dan pinjaman luar negeri neto sebesar Rp 39,21 triliun.
Secara keseluruhan pemerintah mematok defisit sebesar Rp 638,8 triliun atau 2,48% dari produk domestik bruto (PDB) dalam RAPBN 2026. Defisit ini lebih rendah dari defisit tahun 2025 dan mencukupi untuk menjalankan program prioritas secara ekspansif.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






