Kamis, 14 Mei 2026

Menkeu Purbaya Proyeksi Pemulihan Ekonomi Berlanjut Tahun 2026

Penulis : Arnoldus Kristianus
10 Sep 2025 | 15:49 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Thomas A. M. Djiwandono (kanan), Anggito Abimanyu (kiri) dan Suahasil Nazara (kedua kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kedua kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Thomas A. M. Djiwandono (kanan), Anggito Abimanyu (kiri) dan Suahasil Nazara (kedua kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ketahanan dan tren pemulihan ekonomi Indonesia akan berlanjut hingga tahun 2026. Hal ini didukung oleh data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 yang menunjukkan peningkatan.

“Resiliensi ekonomi hingga kuartal II-2025 ini diperkirakan berlanjut dengan pertumbuhan lebih tinggi tahun depan (2026),” ucap Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR pada Rabu (10/9/2025).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 tercatat 5,12%, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang hanya mencapai 4,87%. Angka ini menunjukkan ketahanan ekonomi domestik terhadap tekanan global.

Meskipun demikian, Purbaya mengingatkan agar pemerintah tidak terlena. Ia menyebut ketidakpastian ekonomi dunia, terutama akibat perang dagang, konflik geopolitik, dan ancaman keamanan global, tetap menjadi ancaman serius.

ADVERTISEMENT

“Saat ini tekanan terhadap perekonomian global mulai sedikit mereda, tetapi risiko ketidakpastian tetap perlu diwaspadai,” tutur dia.

Menkeu Purbaya Proyeksi Pemulihan Ekonomi Berlanjut Tahun 2026
Perkembangan pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Ilustrasi: Investor Daily)

Situasi yang terjadi membuat sejumlah negara terus memperkuat kinerja siber dan nuklir. Bila hal-hal tersebut tidak dikelola dengan bijak, maka akan menjadi masalah serius di masa depan.

“Hal ini meningkatkan fragmentasi dan proteksionisme yang mengganggu rantai pasok, sehingga meningkatkan harga komoditas, tekanan terhadap suku bunga, dan nilai tukar. Ini semua terus kami antisipasi dan mitigasi semaksimal mungkin,” kata Purbaya.

Ia juga menyoroti penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat (AS) yang memengaruhi rantai pasok global. Namun, Purbaya melihat adanya harapan, sebab Indonesia dikenai tarif resiprokal sebesar 19%, lebih rendah dari penetapan awal sebesar 32%. Purbaya menegaskan bahwa meskipun tarif tinggi diberlakukan, sejumlah negara masih menunjukkan ketahanan pertumbuhan ekonomi.

“Meskipun tarif tinggi dari AS diberlakukan terhadap berbagai negara, sejumlah negara masih menunjukkan resiliensi dari sisi pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat ketika kebijakan tarif diumumkan pada bulan April, aktivitas perdagangan dan produksi tetap berlanjut,” tegas Purbaya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 11 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 28 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 58 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia