Jumat, 15 Mei 2026

Menkeu Purbaya Balas Kritik DPR: Tanya Mantan Menteri, Bukan Saya

Penulis : Akmalal Hamdhi
10 Sep 2025 | 20:58 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (dua kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Thomas A. M. Djiwandono (kanan), Anggito Abimanyu (kiri) dan Suahasil Nazara (dua kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (dua kanan) didampingi Wakil Menteri Keuangan Thomas A. M. Djiwandono (kanan), Anggito Abimanyu (kiri) dan Suahasil Nazara (dua kiri) saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/9/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merasa keberatan menanggung kritik DPR atas pengelolaan fiskal di awal masa jabatannya. Dalam Rapat Kerja perdana dengan Komisi XI DPR, ia menegaskan bahwa tanggung jawab atas kebijakan sebelumnya semestinya ditujukan kepada menteri keuangan terdahulu.

“Kenapa tidak pernah mempertanyakan itu? Dan saat saya datang ke sini, tiba-tiba, wow, semuanya (pertanyaan) panjang-panjang sekali. Ini (bahasan) harusnya sudah putus pada waktu itu,” kata Purbaya, Rabu (10/9/2025).

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini tidak menampik adanya kesalahan kebijakan fiskal dan moneter di masa lalu yang menyebabkan demonstrasi dan tekanan ekonomi. Ia mencontohkan krisis moneter 1997-1998, di mana Bank Indonesia menaikkan bunga secara signifikan hingga 60%, sementara uang primer juga tumbuh pesat sampai 100%.

“Bunga yang tinggi menghancurkan sektor riil, uang yang banyak dipakai untuk menyerang nilai tukar rupiah. Jadi kita membiayai kehancuran ekonomi kita pada waktu itu tanpa sadar,” tuturnya.

ADVERTISEMENT

Ia juga merespons untuk percepatan belanja dan belanja negara agar lebih optimal. Sebab, lambatnya realiasi belanja negara selama ini dianggap yang menghambat pertumbuhan ekonomi.

Misalnya penyerapan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih tergolong rendah. Ini juga menjadi kritik DPR terhadap pengelolaan anggaran dan belanja negara kurang optimal.

“Kalau mereka tidak bisa susun kebijakan anggaran (MBG) dalam program kerjanya atau pengajuan anggarannya, kami akan kirim orang ke sana supaya jalannya cepat dan kita akan monitor reguler,” imbuh Purbaya.

Dalam rapat tersebut, anggota Komisi XI DPR melontarkan beragam kritik dan pertanyaan. Anggota DPR Harris Turino mempertanyakan optimisme Purbaya yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 6%-7% di tengah tingginya pengangguran, kemiskinan, dan rendahnya daya beli masyarakat.

“Bapak (Purbaya) juga mengatakan dalam tiga bulan ekonomi akan cerah sekali, rasanya jadi harapan kita semua. Tapi persoalannya adalah, apanya yang diubah dari Menteri yang lama, sehingga pertumbuhan bisa akseleratif ke 6-7%,” sebut Harris.

Sementara Wakil Ketua Komisi XI DPR, Dolfie Othniel Frederic Palit, menyoroti rendahnya penyerapan dana pendidikan sebesar 20% dari APBN yang tidak pernah terserap penuh sejak era pemerintahan sebelumnya. “Ini kan jadi semacam akal-akalan, kita enggak mau lagi akal-akalan seperti itu,” tegas Dolfie.

Sementara itu, Melchias Marcus Mekeng meminta Purbaya untuk menciptakan terobosan kebijakan yang lebih kreatif untuk menggenjot penerimaan negara, tidak hanya mengandalkan pajak. “Kalau hanya generik mengandalkan pajak atau PNBP saja, sampai di dunia yang lain pun tidak akan terjadi perubahan. Jadi harus ada kebijakan out of the box,” tutur Mekeng.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia