Jumat, 15 Mei 2026

Airlangga Ungkap Alasan Tak Ada Diskon Tarif Listrik dalam Stimulus Terbaru

Penulis : Celvin Moniaga Sipahutar
15 Sep 2025 | 19:02 WIB
BAGIKAN
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) bersama Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) memberikan keterangan terkait program paket ekonomi usai rapat koorddinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) bersama Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (kanan) memberikan keterangan terkait program paket ekonomi usai rapat koorddinasi dengan Presiden Prabowo Subianto di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah belum berencana untuk kembali memberikan stimulus diskon tarif listrik kepada masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa keputusan itu diambil karena pemerintah masih mengevaluasi dampak dari kebijakan sebelumnya.

“Tidak. Belum ada (rencana diskon tarif listrik),” ungkap Airlangga setelah peluncuran stimulus ekonomi terbaru di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025).

Airlangga menambahkan, pemerintah belum membuka pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini seiring hasil evaluasi yang telah dilakukan beberapa waktu lalu. Fokus saat ini adalah memastikan efektivitas paket stimulus ekonomi yang baru diluncurkan.

“Kami melihat dampak yang kemarin, masih ada evaluasi,” jelas Airlangga, tanpa membeberkan penyebab secara mendetail.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, pemerintah terakhir kali memberikan stimulus diskon tarif listrik pada Januari hingga Februari 2025. Diskon sebesar 50% tersebut diberikan kepada pelanggan rumah tangga PT PLN (Persero) dengan daya terpasang hingga 2.200 VA. Program ini mencakup sekitar 81,4 juta pelanggan atau 97% dari total pelanggan rumah tangga PLN.

Pemberian diskon ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan. Namun, rencana pemberian diskon tarif listrik sempat kembali mengemuka untuk periode Juni dan Juli 2025, tapi batal setelah mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk faktor anggaran.

Saat ini, pemerintah tengah berfokus pada implementasi paket kebijakan ekonomi terbaru bertajuk "8+4+5". Stimulus ini mencakup delapan kebijakan akselerasi ekonomi 2025, empat paket ekonomi yang berlanjut hingga 2026, serta lima paket untuk optimalisasi penyerapan tenaga kerja.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia