Kamis, 14 Mei 2026

IEU-CEPA Buka Jalan Bagi Indonesia “Lolos” dari Ketergantungan Pasar AS

Penulis : Prisma Ardianto
25 Sep 2025 | 17:47 WIB
BAGIKAN
Truk melintas disamping peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, belum lama ini. (Foto: ANTARA)
Truk melintas disamping peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, belum lama ini. (Foto: ANTARA)

JAKARTA, investor.id – Penyelesaian substantif Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) dinilai membuka peluang ekspor besar bagi komoditas tekstil dan produk tekstil (TPT) serta sawit Indonesia.

Direktur Ekonomi Digital Center for Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut perjanjian ini akan menghapus hampir semua hambatan perdagangan, bahkan berpotensi melonggarkan ketergantungan ekspor Indonesia terhadap pasar Amerika Serikat (AS). IEU-CEPA menyediakan karpet merah bagi industri tekstil nasional.

“Jika melihat berita terakhir, tekstil dan produk tekstil bisa mendapatkan tarif 0% ke Uni Eropa. Artinya, industri TPT tidak akan terlalu bergantung pada pasar Amerika yang menerapkan tarif resiprokal,” ujar Nailul pada Kamis (25/9/2025), seperti dikutip dari Antara.

Selain TPT, Indonesia juga mendapat kelonggaran terhadap bea impor minyak sawit. Meski demikian, Nailul mengakui bahwa isu terkait European Union Deforestation Regulation (EUDR) atau UU Anti Deforestasi masih menjadi pembahasan yang alot.

ADVERTISEMENT

“Isu tersebut masih alot. Namun, tidak menutup kemungkinan akan menemukan titik cerah setelah IEU-CEPA berjalan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemitraan IEU-CEPA akan memperluas dan memperlancar arus dagang karena Indonesia dan Uni Eropa telah lama menjadi mitra dagang. Bahkan, Nailul menilai kemitraan ini akan membuat kerja sama dagang dengan Uni Eropa lebih mulus dibandingkan dengan China.

“Perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa lebih baik ketimbang dengan China. Dengan Uni Eropa, perdagangan Indonesia mengalami surplus. Jadi memang ada peluang untuk memperlancar aliran barang ke Uni Eropa,” imbuhnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan dengan Uni Eropa senilai Rp US$ 4,47 miliar untuk periode Januari-Juli 2025, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu sebesar US$ 2,71 miliar.

IEU-CEPA Buka Jalan Bagi Indonesia “Lolos” dari Ketergantungan Pasar AS
Tren neraca dagang Indonesia-Uni Eropa. (Ilustrasi: Investor Daily)

Sementara defisit neraca perdagangan dicatatkan Indonesia terhadap China sebesar US$ 12,07 miliar pada Januari-Juli 2025, lebih tinggi dari periode sama tahun sebelumnya sebesar US$ 6,91 miliar.

Di sisi lain, Indonesia cukup juga tercatat cukup bergantung pada pasar AS. Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$ 10,49 miliar pada Januari-Juli 2025, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang sebesar US$ 7,61 miliar.

Setelah penyelesaian substantif, Indonesia dan Uni Eropa akan melanjutkan proses telaah hukum (legal scrubbing) dan prosedur domestik lainnya. Kedua pihak menargetkan IEU-CEPA dapat segera ditandatangani pada 2026 dan diimplementasikan pada Januari 2027.

Secara garis besar, IEU-CEPA mengeliminasi hingga 98% total tarif, menghapus hambatan perdagangan, dan membuka jalan untuk investasi. Manfaatnya akan dirasakan oleh sektor kunci Indonesia, seperti produk sawit, tekstil, dan alas kaki. Perjanjian ini juga menawarkan akses luas bagi penyedia jasa Indonesia, termasuk arsitek, penasihat hukum, tenaga profesional bidang IT, bidan, perawat, dan insinyur untuk memenuhi kebutuhan pasar Uni Eropa.

Terakhir, IEU CEPA diharapkan menciptakan iklim investasi yang kondusif, terutama untuk mendukung ekonomi hijau. Fokus investasi akan diarahkan pada energi terbarukan, kendaraan listrik, serta industri berbasis teknologi dan riset di berbagai bidang, seperti ICT, elektronik, dan farmasi.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia