Sabtu, 4 April 2026

RI Kehilangan Keuntungan Relatif dari Tarif AS 15%

Penulis : Erfan Ma’ruf
23 Feb 2026 | 20:29 WIB
BAGIKAN
Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing dalam dialog The Forum di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing dalam dialog The Forum di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

TANGERANG, investor.idInternational Economic Association (IEA) mendorong Pemerintah Indonesia untuk segera melakukan renegosiasi perjanjian dagang dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif era Presiden Donald Trump karena dinilai inkonstitusional.

Pembatalan tersebut berdampak langsung pada peta persaingan dagang global. Sekretaris Jenderal IEA, Lili Yan Ing, menjelaskan bahwa skema tarif yang sebelumnya menguntungkan Indonesia kini telah berubah menjadi tarif rata-rata sebesar 15% bagi semua negara.

“Awalnya tarif diturunkan dari 32% menjadi 19%, bahkan sebagian produk menjadi 0%. Namun kini diberlakukan tarif rata 15%. Artinya, keputusan akhir menjadi 15%,” ujar Lili Yan Ing usai dialog The Forum di HQ B-Universe, Tangerang, Senin (23/2/2026).

Menurut Lili, situasi ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk tidak hanya menegosiasikan ulang tarif, tetapi juga memperluas cakupan kerja sama ke sektor strategis lainnya. Ia menyarankan agar pembahasan mencakup perdagangan jasa (trade in services), investasi, serta berbagai kebijakan non-tarif (non-tariff measures).

Advertisement

Namun, Lili memberikan catatan kritis terkait klausul dalam perjanjian yang mewajibkan Indonesia mengadopsi kebijakan setara (equivalent) dengan AS. Jika AS menerapkan kebijakan restriktif terhadap produk barang, jasa, maupun investasi, Indonesia pun diharuskan menerapkan hal serupa terhadap negara mitra pihak ketiga.

“Menurut saya, ini berpotensi mempertentangkan kedaulatan Indonesia dalam menetapkan kebijakan perdagangan maupun investasi,” tegas Lili.

Terkait penerapan tarif 15% secara merata, Lili memaparkan bahwa posisi Indonesia kini tidak lagi istimewa. Sebelumnya, Indonesia sempat diuntungkan karena mendapat tarif lebih rendah dibandingkan negara lain yang terkena tarif 20% hingga 60%.

Pascaputusan Mahkamah Agung AS, skema tersebut dibatalkan dan dikembalikan ke tarif Most Favored Nation (MFN). Melalui penggunaan Section 301, tarif kemudian dipukul rata menjadi 15% untuk seluruh negara.

“Sekarang playing field-nya sama, 15% untuk semua. Artinya Indonesia tidak lagi mendapatkan keuntungan relatif dibanding negara lain. Itu sebabnya renegosiasi menjadi penting,” imbuhnya.

Meski kerja sama dengan AS tetap krusial, Lili mengingatkan pemerintah untuk tetap menjalankan strategi diversifikasi di berbagai sektor, mulai dari perdagangan barang, jasa, investasi, hingga sistem pembayaran.

“Indonesia tidak boleh hanya bergantung pada satu atau dua negara. Kita perlu meningkatkan kerja sama dengan lebih banyak negara di dunia,” pungkasnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 38 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 48 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 1 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 2 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia