Sabtu, 4 April 2026

Tarif AS Dipukul Rata 15%, RI Harus Perkuat Keunggulan Komparatif

Penulis : Erfan Ma’ruf
23 Feb 2026 | 20:42 WIB
BAGIKAN
Duta Besar Indonesia untuk WTO 2014-2015 Iman Pambagyo (kiri), Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing (dua kiri), dan Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar (dua kanan), menjadi narasumber yang dipandu Iqbal Suwitamihardja (kanan), dalam dialog The Forum di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Duta Besar Indonesia untuk WTO 2014-2015 Iman Pambagyo (kiri), Sekjen Internasional Economic Association (IEA) Lili Yan Ing (dua kiri), dan Ekonom dari Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) Rizqy Nauli Siregar (dua kanan), menjadi narasumber yang dipandu Iqbal Suwitamihardja (kanan), dalam dialog The Forum di studio semesta BTV, PIK 2, Tangerang, Banten, Senin (23/2/2026). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

TANGERANG, investor.id – Pemerintah Indonesia didesak untuk memperkuat strategi domestik guna menghadapi kebijakan tarif ekspor Amerika Serikat (AS) yang kini disamaratakan menjadi 15%. Fokus pada produk dengan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan efisiensi regulasi menjadi kunci agar produk lokal tetap kompetitif di pasar global.

Sekretaris Jenderal International Economic Association (IEA), Lili Yan Ing, menyebutkan sejumlah komoditas unggulan yang harus dipacu ekspornya ke AS. Produk tersebut meliputi minyak sawit (palm oil), tekstil dan produk tekstil, garmen, alas kaki, tas perjalanan (travel bags), hingga kakao.

“Indonesia tetap harus meningkatkan ekspor barang-barang yang memang kita punya keunggulan komparatif dan dibutuhkan Amerika Serikat,” ujar Lili Yan Ing usai dialog The Forum di HQ B-Universe, PIK2, Tangerang, Senin (23/2/2026).

Selain memperkuat sektor pertambangan dan mineral yang dibutuhkan pasar AS, Lili menekankan pentingnya peningkatan daya saing (competitiveness). Menurutnya, hal ini sangat bergantung pada keberanian pemerintah dalam melakukan reformasi regulasi perdagangan dan investasi di dalam negeri.

Advertisement

Ia mengingatkan agar para produsen tidak lagi dibebani oleh aturan yang berbelit-belit, praktik pungutan liar, maupun biaya tambahan lain yang justru melambungkan ongkos produksi. Regulasi seharusnya hadir untuk memfasilitasi efisiensi dunia usaha, baik bagi perusahaan domestik maupun investor asing di Indonesia.

“Jadi kuncinya adalah konsistensi melakukan reformasi domestik, perbaikan infrastruktur, perbaikan customs clearance, dan tentu saja peningkatan kualitas human capital Indonesia untuk jangka panjang,” tegas Lili.

Lili menambahkan bahwa aspek non-teknis seperti sistem logistik, infrastruktur, hingga proses customs clearance (kepabeanan) perlu dibenahi secara menyeluruh. Faktor-faktor tersebut merupakan komponen biaya besar yang seringkali menghambat laju ekspor nasional.

Dengan hilangnya preferensi tarif khusus dari AS, posisi Indonesia kini murni ditentukan oleh kekuatan internal negara. Efisiensi, produktivitas, dan daya saing nasional kini menjadi penentu tunggal apakah produk Indonesia mampu bersaing dengan negara lain di pasar Paman Sam.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengguncang pasar perdagangan internasional. Pada Sabtu waktu setempat, Trump mengumumkan kenaikan tarif impor global dari 10% menjadi 15%. Keputusan ini diambil hanya berselang satu hari setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif "resiprokal" miliknya.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan kenaikan tarif ini akan berlaku efektif segera.

“Saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, akan menaikkan tarif dunia dari 10% menjadi 15%, level yang diizinkan sepenuhnya dan telah diuji secara hukum,” tulis Trump. Ia beralasan banyak negara telah "memeras" Amerika Serikat selama puluhan tahun tanpa ada tindakan balasan yang berarti sebelum masa jabatannya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 40 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 50 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 1 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 2 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia