Minggu, 21 Juni 2026

BPS: Inflasi Ramadan 2026 Lebih Rendah Dibanding Tahun-tahun Sebelumnya

Penulis : Addin Anugrah Siwi
2 Mar 2026 | 19:36 WIB
BAGIKAN
Mahasiswa dan warga menanti waktu berbuka puasa di Gedung Auditorium Prof. Ali Hasjmy, Banda Aceh, Aceh, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Akramul Muslim)
Mahasiswa dan warga menanti waktu berbuka puasa di Gedung Auditorium Prof. Ali Hasjmy, Banda Aceh, Aceh, baru-baru ini. (ANTARA FOTO/Akramul Muslim)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan berada pada level yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Meski tercatat inflasi bulanan sebesar 0,68% (month to month/mtm), tren kenaikan harga pangan tahun ini dinilai lebih stabil.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menekankan bahwa pola inflasi Ramadan kali ini menunjukkan perbaikan performa dibandingkan Ramadan 2022 dan 2025.

“Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 (April 2022) dan Ramadan 2025 (Maret 2025),” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Walaupun lebih terkendali, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi kontributor utama inflasi bulanan dengan kenaikan 1,54% dan andil sebesar 0,45%.

ADVERTISEMENT

“Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,54% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,45%,” jelas Ateng.

Komoditas pangan yang memberikan andil inflasi antara lain daging ayam ras (0,09%), cabai rawit (0,08%), ikan segar (0,05%), serta cabai merah (0,04%). Di sisi lain, bensin justru menjadi penahan laju inflasi dengan memberikan andil deflasi sebesar 0,05%.

Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Februari 2026 bertengger di angka 4,76%. BPS menjelaskan kenaikan ini dipicu oleh faktor low-base effect, mengingat pada awal 2025 pemerintah sempat menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang kini sudah tidak berlaku lagi.

Melihat sebaran wilayah, inflasi bulanan tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04%, sementara deflasi terdalam tercatat di Papua Barat sebesar 0,65%. Secara keseluruhan, BPS mencatat 33 provinsi mengalami inflasi bulanan, sedangkan 5 provinsi lainnya mengalami deflasi.

Ateng menambahkan, meskipun harga beberapa komoditas bergejolak seperti daging ayam dan cabai tetap menjadi penyumbang utama saat Ramadan, efektivitas pengendalian harga membuat dampaknya tidak setajam tahun-tahun sebelumnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 2 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 33 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia