Sabtu, 4 April 2026

Purbaya Tambah Anggaran Subsidi Energi Rp 100 Triliun

Penulis : Prisma Ardianto
1 Apr 2026 | 18:21 WIB
BAGIKAN
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta (B-Universe Photo/Addin Anugrah Siwi)

JAKARTA, investor.id - Pemerintah melalui Kementerian Keuangan berencana menambah alokasi anggaran subsidi energi sebesar Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun. Langkah ini diambil guna merespons lonjakan harga komoditas energi akibat krisis global dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa tambahan dana tersebut difokuskan khusus untuk skema subsidi, bukan kompensasi. Alokasi ini akan digunakan untuk menjaga stabilitas harga komoditas yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti LPG 3 kg dan Solar.

“Rp 90 triliun–Rp 100 triliun. Itu subsidi. Kompensasi lain lagi. Saya lupa (angka kompensasi),” ujar Purbaya saat ditemui di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta, seperti dikutip dari Antara pada Rabu (1/4/2026).

Advertisement

Dalam penjelasannya, Purbaya membedakan antara subsidi dan kompensasi. Dana subsidi dialokasikan untuk barang yang harga jualnya ditetapkan di bawah harga pasar sejak awal. Sementara kompensasi, seperti pada Pertalite, merupakan dana yang dibayarkan pemerintah kepada badan usaha Pertamina untuk menutupi selisih harga keekonomian.

Sebelum tambahan ini, pemerintah telah menganggarkan subsidi energi sebesar Rp 210,1 triliun dalam APBN 2026. Jika digabung dengan dana kompensasi, total anggaran ketahanan energi nasional mencapai Rp 381,3 triliun.

Meski ada penambahan anggaran dalam skala besar, Menkeu menjamin defisit APBN 2026 tetap terkendali di bawah batas aman 3%. Pemerintah mengklaim telah mengunci simulasi fiskal bahkan jika harga minyak dunia bertahan di level tinggi.

“Ini udah kami hitung semua. Kan nanti meski dengan rata-rata (harga minyak dunia) US$ 100 pun kita sudah kunci defisitnya di bawah 3%, itu di sekitar 2,9%. Jadi gak masalah,” tegas Purbaya.

Sebelumnya, pemerintah telah memaparkan tiga skenario dampak lonjakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) terhadap postur APBN:

  • Skenario Dasar: ICP US$ 86 per barel dan kurs Rp 17.000, defisit diperkirakan 3,18%.
  • Skenario Moderat: ICP US$ 97 per barel dan kurs Rp 17.300, defisit berpotensi melebar ke 3,53%.
  • Skenario Pesimistis: ICP US$ 115 per barel dan kurs Rp 17.500, defisit diperkirakan mencapai 4,06%.

Purbaya sebelumnya juga meminta masyarakat supaya tidak terlalu khawatir karena pengelolaan anggaran tetap dijaga secara berkesinambungan untuk memberi bantalan terhadap gejolak ekonomi dunia.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 6 menit yang lalu

Lima Jurus Menghadapi Periode Kritis Produksi Beras

Stok beras di atas 4 juta ton, masyarakat tidak perlu panik.
International 10 menit yang lalu

Jet Tempur F-15 AS Jatuh di Iran, Operasi Penyelamatan Pilot Jadi Rebutan

Jet F-15 AS jatuh di Iran, operasi penyelamatan pilot jadi rebutan kedua pihak. Eskalasi perang kian meluas hingga ancam pasokan energi.
Business 36 menit yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 39 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 48 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 52 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia