Jaga Rupiah, BI Umumkan Mode Pro-Stabilitas
JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) melakukan rekalibrasi bauran kebijakan moneter guna merespons tekanan hebat terhadap nilai tukar Rupiah yang mencapai level terendah sepanjang sejarah. Langkah ini diambil di tengah memburuknya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan internasional yang kian restriktif.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Rupiah pada penutupan Selasa (7/4/2026) terkoreksi ke level Rp 17.095 per dolar AS. Angka ini mencatatkan sejarah baru sebagai level penutupan terlemah mata uang Garuda.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa kondisi global saat ini kian memburuk menyusul kebijakan tarif resiprokal dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, dampak konflik tersebut menjalar melalui jalur perdagangan, lonjakan harga komoditas, hingga gejolak di pasar keuangan
“Beberapa perkembangan terkini yang memang perlu kami laporkan karena dunia kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal dan ada perang,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Perry menjelaskan, dari sisi komoditas, gangguan rantai pasok mendorong lonjakan harga minyak yang sempat mencapai US$ 122 per barel. Selain itu, harga emas tetap bertahan tinggi sejak 2025.
Perry menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh US$ 122 per barel akibat gangguan rantai pasok. Di sisi finansial, defisit fiskal Amerika Serikat telah memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi US Treasury, yang memicu pelarian modal (outflow) besar-besaran dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
“Terlihat inflow itu tahun lalu volatil, tapi ada tren naik. Namun sejak tahun ini terjadi outfow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain,” imbuh Perry.
Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia menetapkan arah kebijakan yang menitikberatkan pada stabilitas (pro-stability). Berikut adalah poin-poin utama rekalibrasi kebijakan BI:
- Suku Bunga Acuan: BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Perry menegaskan ruang untuk penurunan suku bunga ke depan menjadi sangat terbatas demi menjaga daya tarik aset domestik.
- Intervensi Pasar SBN: BI aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dengan total mencapai Rp 90,05 triliun sepanjang tahun berjalan 2026 untuk menstabilkan pasar.
- Instrumen Moneter: Meningkatkan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menahan arus modal keluar dan menarik kembali aliran dana asing.
- Ketahanan Perbankan: Meski fokus pada stabilitas, BI memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga agar penyaluran kredit tetap tumbuh tinggi. Hingga saat ini, pertumbuhan uang beredar (M0) disebut masih berada di level double digit sekitar 13,3%.
Ia menuturkan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, arah kebijakan moneter Bank Indonesia akan lebih difokuskan pada pro-stability guna menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan nasional.
“Ini beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” sebut Perry.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






