Minggu, 21 Juni 2026

Jaga Rupiah, BI Umumkan Mode Pro-Stabilitas

Penulis : Akmalal Hamdhi
8 Apr 2026 | 16:29 WIB
BAGIKAN
Gubernur BI, Perry Warjiyo (kedua kiri) dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)
Gubernur BI, Perry Warjiyo (kedua kiri) dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (B-Universe Photo/Akmalal Hamdhi)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) melakukan rekalibrasi bauran kebijakan moneter guna merespons tekanan hebat terhadap nilai tukar Rupiah yang mencapai level terendah sepanjang sejarah. Langkah ini diambil di tengah memburuknya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan perdagangan internasional yang kian restriktif.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Rupiah pada penutupan Selasa (7/4/2026) terkoreksi ke level Rp 17.095 per dolar AS. Angka ini mencatatkan sejarah baru sebagai level penutupan terlemah mata uang Garuda.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa kondisi global saat ini kian memburuk menyusul kebijakan tarif resiprokal dan konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, dampak konflik tersebut menjalar melalui jalur perdagangan, lonjakan harga komoditas, hingga gejolak di pasar keuangan

ADVERTISEMENT

“Beberapa perkembangan terkini yang memang perlu kami laporkan karena dunia kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal dan ada perang,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Senayan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Perry menjelaskan, dari sisi komoditas, gangguan rantai pasok mendorong lonjakan harga minyak yang sempat mencapai US$ 122 per barel. Selain itu, harga emas tetap bertahan tinggi sejak 2025.

Perry menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang sempat menyentuh US$ 122 per barel akibat gangguan rantai pasok. Di sisi finansial, defisit fiskal Amerika Serikat telah memicu kenaikan imbal hasil (yield) obligasi US Treasury, yang memicu pelarian modal (outflow) besar-besaran dari pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.

“Terlihat inflow itu tahun lalu volatil, tapi ada tren naik. Namun sejak tahun ini terjadi outfow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain,” imbuh Perry.

Jaga Rupiah, BI Umumkan Mode Pro-Stabilitas
Tren Rupiah terhadap Dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Menghadapi situasi tersebut, Bank Indonesia menetapkan arah kebijakan yang menitikberatkan pada stabilitas (pro-stability). Berikut adalah poin-poin utama rekalibrasi kebijakan BI:

  1. Suku Bunga Acuan: BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Perry menegaskan ruang untuk penurunan suku bunga ke depan menjadi sangat terbatas demi menjaga daya tarik aset domestik.
  2. Intervensi Pasar SBN: BI aktif melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder dengan total mencapai Rp 90,05 triliun sepanjang tahun berjalan 2026 untuk menstabilkan pasar.
  3. Instrumen Moneter: Meningkatkan daya tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menahan arus modal keluar dan menarik kembali aliran dana asing.
  4. Ketahanan Perbankan: Meski fokus pada stabilitas, BI memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga agar penyaluran kredit tetap tumbuh tinggi. Hingga saat ini, pertumbuhan uang beredar (M0) disebut masih berada di level double digit sekitar 13,3%.

Ia menuturkan, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, arah kebijakan moneter Bank Indonesia akan lebih difokuskan pada pro-stability guna menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan nasional.

“Ini beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro-stability,” sebut Perry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 31 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 8 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia