Kondisi Fiskal RI Dinilai Stabil di Tengah Gejolak Energi Global
JAKARTA, investor.id - World Bank (Bank Dunia) menilai kondisi fiskal Indonesia relatif kuat dalam menghadapi lonjakan biaya energi global imbas penutupan di Selat Hormuz.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo mengatakan bahwa fiskal Indonesia masih berada dalam posisi aman meski pemerintah memutuskan untuk mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir 2026.
Hal ini tercermin dari defisit fiskal Indonesia pada 2025 yang berada di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
"Indonesia cenderung (mengambil langkah) kehati-hatian terhadap fiskal, sehingga relatif memiliki kapasitas untuk tetap memberikan dukungan subsidi energi," ungkap Mattoo dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring, dikutip pada Jumat (10/4/2026).
Meski demikian, Mattoo menyarankan agar pemerintah memastikan penyaluran subsidi BBM tepat sasaran.
Menurutnya, dukungan subsidi energi perlu diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah hingga pelaku usaha kecil, agar beban fiskal terjaga stabil. Mattoo pun menyerukan peninjauan mekanisme distribusi subsidi agar penyaluran berjalan optimal.
"Semakin tepat sasaran dukungan (subisidi energi) semakin kecil risiko terhadap beban fiskal," jelas Mattoo.
Namun, World Bank merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 ke level 4,7%. Angka tersebut merupakan penurunan dari perkiraan sebelumnya di level 4,8%.
Meski direvisi turun, proyeksi tersebut tergolong lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) di level 4,2%.
“Kami menilai (perekonomian) Indonesia relatif tangguh. Salah satu pendukungnya karena ketergantungan terhadap impor minyak yang rendah dibandingkan negara lain,” beber Mattoo.
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


