Harga Minyak Dunia Naik, BI: Dampaknya ke Stagflasi, Tidak Bagus
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memperingatkan adanya dampak ganda (two-sided effect) bagi perekonomian domestik menyusul lonjakan harga minyak dunia yang menembus level US$ 100 per barel. Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu ancaman stagflasi—kondisi di mana ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
Pada perdagangan Senin (13/4/2026), harga minyak mentah Brent melonjak 7,98% ke level US$ 102,80 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melesat 8,61% ke posisi US$ 104,88 per barel. Kenaikan tajam ini utamanya dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global akibat rencana blokade Selat Hormuz.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan utama muncul dari jalur finansial dan inflasi. Penguatan dolar AS (indeks DXY di atas 100) menyebabkan pelemahan mata uang regional dan meningkatkan biaya energi serta logistik global.
“Dampaknya ada dua sisi; harga minyak naik tapi komoditi ekspor juga meningkat... Ini namanya stagflasi, tidak bagus ya. Respons kebijakan menjadi penting,” tegas Destry dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin (13/4/2026).
Di sisi positif, Indonesia mendapatkan bantalan ekonomi dari kenaikan harga komoditas unggulan. Harga batu bara, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), nikel, hingga emas ikut terkerek seiring lonjakan harga energi global. Hal ini diharapkan mampu menopang kinerja ekspor dan meningkatkan pendapatan fiskal sebagai kompensasi pembengkakan biaya impor BBM (bahan bakar minyak).
“Batu bara naik karena mempersiapkan alternatif energi. CPO naik. Indirect impact cukup bagus ke RI karena ada coal, CPO, emas,” kata Destry.
Namun, Destry memberikan catatan khusus mengenai gangguan rantai pasok global (supply chain). Hambatan distribusi di Timur Tengah tidak hanya menaikkan biaya pengapalan, tetapi juga merembet pada kenaikan harga bahan baku industri seperti plastik dan logam.
“Kesimpulannya harga komoditas global naik, emas, coal, nikel, pertanian juga naik. Yang terbaru plastik karena ada supply chain, ujungnya ada penurunan produksi,” kata Destry.
BI memetakan tiga jalur transmisi risiko konflik ini terhadap ekonomi Indonesia: jalur finansial, harga komoditas, serta perdagangan dan produksi. Guna menjaga stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global, BI menekankan pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal yang presisi untuk memitigasi efek rambatan dari pasar internasional.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






