Kamis, 14 Mei 2026

Percepatan Pertumbuhan Sarana Menara Nusantara

Penulis : Parluhutan Situmorang
13 Feb 2020 | 22:54 WIB
BAGIKAN
Sarana Menara Nusantara. Foto: beritasatu.com
Sarana Menara Nusantara. Foto: beritasatu.com

JAKARTA, investor.id - Keberhasilan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) mengakuisisi sebanyak 1.728 menara telekomunikasi dari PT XL Axiata Tbk (EXCL) akan mempercepat pertumbuhan pendapatan dan laba bersih perseroan tahun ini. Pertumbuhan kinerja perseroan juga akan didukung oleh penambahan penyewa menara baru.

XL Axiata sebelumnya menetapkan anak usaha Sarana Menara, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), sebagai pemenang tender penjualan seabnyak 1.728 unit senilai Rp 2,24 triliun atau Rp 1,3 miliar per menara.

Penandatanganan perjanjian jual beli untuk transaksi ini dilaksanakan pada 7 Februari 2020, setelah sebelumnya melewati proses eAuction pada 31 Januari 2020. XL Axiata juga menandatangani perjanjian induk sewa menyewa menara dengan kedua perusahaan pemenang tender.

Percepatan Pertumbuhan Sarana Menara Nusantara
Jaringan XL Axiata (Foto: XL Axiata/IST)

XL Axiata akan menyewa kembali 2.763 unit menara yang dijual tersebut untuk jangka waktu 10 tahun. Perseroan menjadi penyewa utama (anchor tenant) terhitung sejak tanggal penyelesaian transaksi yang dijadwalkan pada atau sebelum 30 Juni 2020.

ADVERTISEMENT

Analis CGS CIMB Sekuritas Willy Suwanto mengungkapkan, akuisisi menara tersebut akan menambah 2.600 penyewaan menara baru perseroan atau setara dengan rasio tenasi 1,5 kali. Sedangkan lokasi menara sebagian besar tersebar di pulau Jawa dan sisanya di pulau Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara.

“Mayoritas menenara berada di lokasi favorit dengan rasio tenansi mencapai 1,5 kali. Lokasi yang strategis tersebut memungkinan perseroan untuk menambah penyewa baru dalam jangka panjang,” tulis Willy dalam risetnya, baru-baru ini.

Pembelian menara XL tersebut akan berimbas terhadap penambahan pendapatan perseroan senilai Rp 330 miliar per tahun. Margin EBITDA diperkirakan mencapai 80%, sehingga Sarana

Menara berpeluang untuk mendapatkan keuntungan dari pembelian menara tersebut sebesar Rp 190 miliar per tahun.

Terkait harga pembelian menara, dia mengatakan, sudah sesuai harapan sebeasr Rp 1,3 miliar per menara, apalagi sebagian besar menara berada di lokasi strategis. XL juga kemudian telah menandatangani penyewaan kembali menara-menara tersebut senilai Rp 10 juta per bulan dan menempatkan XL sebagai penyewa utamanya.

Berbagai faktor tersebut mendorong CGS CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TOWR dengan target harga direvisi naik dari Rp 900 menjadi Rp 1.000 per saham.

Target harga tersebut telah mempertimbangkan pembelian menara telekomunikasi dari XL. Target harga tersebut juga mempertimbangkan target pembangunan sebanyak 2.000 menara baru tahun ini.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan CGS CIMB Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih Sarana Menara menjadi Rp 2,42 triliun tahun ini dibandingkan proyeksi tahun lalu senilai Rp 2,13 triliun dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 2,2 triliun.

Pendapatan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 7,12 triliun pada 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 6,36 triliun dan realisasi tahun 2018 sebesar Rp 5,86 triliun.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Zisokhi mengungkapkan, Sarana Menara diperkirakan memiliki kemampuan untuk menambah jumlah Menara dan penyewa menara baru tahun ini.

“Kami memperkirakan tambahan sebanyak 2.000 penyewa menara baru tahun ini. Angka tersebut bertumbuh sekitar 15,9% dari total penyewa perseroan tahun ini,” ungkap dia dalam outlook tahunan.

Percepatan Pertumbuhan Sarana Menara Nusantara
PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Foto: Perseroan.

Sarana Menara juga memiliki add-value service, yaitu jaringan fiber optic. Hal ini membuat daya tawar Sarana Menara tinggi kepada pelanggan, sehingga penyewaan tetap bertumbuh dalam jangka panjang.

“Kami meyakini tenancy ratio perseroan tahun ini akan naik +2,4% yoy menjadi 1,71x. Namun target tersebut belum menghitung tambahan menara dari hasil akuisisi XL,” sebut Yosua.

Meski sahamnya direkomendasikan beli, Sarana Menara menghadapi pertumbuhan penyewaan yang disertai dengan lease rate turun 5,15% tahun ini. “Kami memandang penurunan lease rate cukup wajar di tengah banyaknya penyewaan bersifat kolokasi, sehingga harga sewa menara cenderung lebih rendah,” jelas dia.

Keberhasilan perseroan untuk menambah jumlah menara dan penyewanya mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli sebesar Rp 905 per saham.

Target tersebut mencerminkan perkiraan PE dan PBV masing-masing 18,1 kali dan 4,2 kali tahun ini. Namun target tersebut belum menghitung pembelian menara XL.

Samuel Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih Sarana Menara menjadi Rp 2,54 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 2,27 triliun. Pendapatan juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 7,09 triliun pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 6,29 triliun.

Jajaki Pinjaman

Percepatan Pertumbuhan Sarana Menara Nusantara
Sarana Menara

Sarana Menara melalui Protelindo akan mengandalkan kas internal dan tambahan utang baru untuk mengakuisisi 1.728 menara telekomunikasi milik PT XL Axiata Tbk (EXCL). Perseroan bersiap membayar pembelian senilai Rp 2,24 triliun tersebut secara tunai.

Adapun belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini sebesar Rp 3-3,5 triliun.

Wakil Presiden Direktur Protelindo Adam Gifari mengatakan, utang tambahan ini akan memiliki dampak terbatas pada leverage Protelindo dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA tahunan yang saat ini di bawah 3 kali.

Transaksi ini menambah hampir Rp 2,9 triliun ke dalam pendapatan kotrak Protelindo. Pasalnya 1.728 menara telekomunikasi yang diakuisisi tersebut memiliki lebih dari 2.600 penyewa. Dalam transaksi ini, XL juga menandatangani perjanjian sewa kembali menara selama 10 tahun.

“Akuisisi berganda ini sejalan dengan pembelian aset sebelumnya. Transaksi ini semakin memperkuat hubungan kami dengan XL yang sekarang menjadi klien terbesar perseroan,” kata Adam.

Percepatan Pertumbuhan Sarana Menara Nusantara
Ferdinandus Aming Santoso, Direktur Utama Sarana Menara Nusantara

Sementara itu Presiden Direktur Protelindo Ferdinandus Aming Santoso mengatakan, akuisisi 2.600 penyewa baru memperkuat Protelindo sebagai pemilik dan operator menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Hal ini juga membuat total menara perseroan menjadi lebih dari 21.000 unit.

“Efisiensi operasi akan memungkinkan kami untuk mengelola menara tambahan ini secara efisien dan pembelian ini juga memberikan kontribusi keuangan yang positif,” jelas dia.

Sesuai rencana, penambahan penyewa baru diharapkan menambah lebih dari Rp 340 miliar kepada pendapatan run-rate tahunan Protelindo. Adapun lebih dari 50% menara berlokasi di Jawa, ditambah dengan luar Jawa seperti Sumatera, Bali dan Nusa Tenggara. Transaksi antara Protelindo dengan XL ditargetkan selesai pada akhir kuartal

I-2020.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 22 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 52 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia