Kamis, 14 Mei 2026

Lebih Realistis, Intraco Penta Pasang Target Konservatif

Penulis : Ghafur Fadillah
17 Mar 2021 | 21:19 WIB
BAGIKAN
PLTU. Foto: Intraco Penta.
PLTU. Foto: Intraco Penta.

JAKARTA, investor.id - PT Intraco Penta Tbk (INTA) memasang target pertumbuhan penjualan konservatif yakni sekitar 10% pada tahun ini. Tantangan bisnis penjualan alat berat di masa pandemi mendorong perseroan menetapkan kinerja yang lebih realistis.

Direktur Intraco Penta Eddy Rodianto mengatakan, meskipun target ini konservatif, namun perseroan optimistis akan tercapai. Meningkatnya permintaan bijih nikel diproyeksikan menjadi penyumbang terbesar penjualan.

“Salah satu sektor yang kami prediksi bakal jadi penopang yakni bijih nikel, lantaran permintaannya yang terus meningkat. Laju industrinya saat ini cukup baik ditandai dengan banyaknya investasi yang di sektor hilir,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Rabu (17/3).

Eddy menambahkan, investasi pada sektor hilir tersebut menjaga permintaan bijih nikel atau nikel ore yang semakin tinggi. Pada sektor hulu, pertambangan komoditas nikel ini akan menggunakan alat-alat berat milik perseroan.

ADVERTISEMENT

“Dengan demikian, kami cukup optimistis sektor nikel dapat menopang penjualan alat berat Intraco Penta. Meski demikian, perlu diingat bahwa penggunaan alat berat pada sektor ini tidak seintensif pada pertambangan batu bara,” ujarnya.

Selain itu, upaya lainya yang dilakukan perseroan untuk menyiasati pelemahan penjualan batu bara lainnya, yakni melakukan kerja sama dengan LiuGong Machinery Indonesia sebagai principal terbaru yang memiliki market share yang besar. Perseroan yakin bahwa teknologi dari Tiongkok saat ini sudah diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Untuk diketahui, kerja sama ini sebelumnya telah ditandatangani oleh entitas anak usaha perseroan yakni PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS). Perseroan nantinya akan memasarkan, melakukan penjualan serta distribusi unit alat berat dan suku cadang dengan merk LiuGong dan Dressta.

Lebih lanjut, dari lini bisnis lainnya, yakni pembiayaan perseroan berencana mencari memperkuat bisnis pembiayaan dengan melalui dukungan dari investor baru dan perbaikan rasio penting untuk keberlangsungan usaha. Disisi lain, perseroan berkomitmen untuk terus peluang bisnis baru.

“Kami juga harapkan kinerja dari anak usaha kami kembali membaik seiring dengan langkah-langkah konsolidasi pada setiap core business yang dijalankan mulai dari penjualan produk alat berat, konstruksi dan pendukungnya,” kata dia.

Sementara itu, pada 2020 perseroan juga berhasil memperoleh proyek pembangkit tenaga listrik dari anak usaha lainya yakni PT Tenaga Listrik Bengkulu (TLB). Proyek tersebut saat ini mencapai Commercial Operation Date (COD) setelah melalui beberapa tahap percobaan.

Dengan dicapainya tahap COD, dia melanjutkan, PLTU berkapasitas 2,100 Megawatt (MW) resmi menjadi PLTU berbahan bakar batubara pertama di Bengkulu.

"PLTU ini sudah siap melakukan penjualan terhadap pihak PT Pembangkit Listrik Negara (PLN) dan diharapkan beroperasi secara handal hingga 25 tahun," pungkasnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 22 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 52 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia