Jumat, 15 Mei 2026

Valuasi dan Penyerapan IPO Unicorn Masih Dipertanyakan

Penulis : Gita Rossiana
24 Jun 2021 | 18:29 WIB
BAGIKAN
Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management dalam diskusi Zooming with Primus - Startup Masuk Bursa, Live di Beritasatu TV, Kamis (24/6/2021). Sumber: BSTV
Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management dalam diskusi Zooming with Primus - Startup Masuk Bursa, Live di Beritasatu TV, Kamis (24/6/2021). Sumber: BSTV

JAKARTA, investor.id – Direktur PT MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan, terlepas dari sedang tingginya 'hype' dari unicorn yang akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan melantai di bursa domestik, saat ini para analis dan investor masih memperdebatkan mengenai valuasi dan tingkat absorbsi dari IPO unicorn tersebut.

"Memang pilihan bagus bagi investor ketika unicorn masuk. Namun realitanya ada konflik antara analis konvensional dan modern serta antara investor konvensional dan modern mengenai valuasi dari unicorn ini dan apakah bisa diabsorpsi," jelas dia dalam acara Zooming With Primus dengan tema “Startup Masuk Bursa” secara Virtual, Kamis (24/6). 

Menurut Edwin, apabila unicorn ini akan IPO dengan target dana di bawah Rp 1 triliun, mungkin masih bisa diterima oleh pasar modal Tanah Air. Pasalnya, di sisi lain banyak emiten yang sedang membutuhkan dana dengan melakukan rights issue.

Namun apabila unicorn ini akan IPO dengan target dana di atas Rp 1 triliun, maka tentunya tidak bisa hanya tercatat di bursa domestik. Unicorn ini harus tercatat juga di bursa luar negeri seperti bursa Hong Kong atau Amerika Serikat (AS).

ADVERTISEMENT

"Kalau misalkan di atas Rp 1 triliun, maka akan berat bagi pasar Indonesia untuk menerimanya," papar dia.

Edwin memaklumi antusiasme akan kehadiran unicorn ini karena bisa menambah kapitalisasi pasar di bursa dan juga menarik investor asing ke Tanah Air. Pasalnya, GoTo dengan valuasi sekitar US$ 45 miliar bisa menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di bawah BCA apabila jadi melakukan IPO.

Kendati demikian, investor yang akan berinvestasi di saham tersebut tentunya mempertanyakan struktur bisnis yang dimiliki. Edwin mencontohkan seperti halnya bisnis bank, maka harus jelas mengenai lending dan funding-nya, klien dan deposannya siapa saja.

Lebih lanjut, unicorn juga perlu memperhatikan keberlangsungan sahamnya di pasar modal. Edwin menjelaskan, dari sekitar 800 emiten yang tercatat saat ini, kurang dari 10% yang sahamnya bergerak aktif.

Sementara investor ritel yang menguasai 60% investor pasar modal sangat memperhatikan pergerakan dan likuiditas dari sebuah saham. Ciri khas dari transaksi investor ritel ini juga sangat pendek, yakni hanya 1-2 hari. Karenanya, diperlukan pula market maker yang bisa mendorong pergerakan harga saham unicorn ini.

"Kalau tidak ada market maker, dan sahamnya tidak bergerak, investor tidak akan masuk," papar dia.

Kalaupun unicorn mengandalkan manajer investasi atau dana pensiun, investor tipe ini sangat melihat valuasi dan likuiditas dari saham tersebut. Apabila saham tersebut terlalu mahal dan tidak likuid, mereka akan cenderung menghindarinya. Begitupun dengan investor asuransi yang sangat memperhatikan cashflow dalam berinvestasi di saham.

"At the end, dalam melihat sebuah emiten akan kembali lagi dari sisi valuasi. Investor juga melihat top line dan bottom line dari sebuah saham, apakah masih merugi atau tidak," tutur dia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia