Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management dalam diskusi Zooming with Primus - Startup Masuk Bursa, Live di Beritasatu TV, Kamis (24/6/2021). Sumber: BSTV

Edwin Sebayang, Direktur MNC Asset Management dalam diskusi Zooming with Primus - Startup Masuk Bursa, Live di Beritasatu TV, Kamis (24/6/2021). Sumber: BSTV

Valuasi dan Penyerapan IPO Unicorn Masih Dipertanyakan

Kamis, 24 Juni 2021 | 18:29 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Direktur PT MNC Asset Management Edwin Sebayang mengatakan, terlepas dari sedang tingginya 'hype' dari unicorn yang akan melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dan melantai di bursa domestik, saat ini para analis dan investor masih memperdebatkan mengenai valuasi dan tingkat absorbsi dari IPO unicorn tersebut.

"Memang pilihan bagus bagi investor ketika unicorn masuk. Namun realitanya ada konflik antara analis konvensional dan modern serta antara investor konvensional dan modern mengenai valuasi dari unicorn ini dan apakah bisa diabsorpsi," jelas dia dalam acara Zooming With Primus dengan tema “Startup Masuk Bursa” secara Virtual, Kamis (24/6). 

Menurut Edwin, apabila unicorn ini akan IPO dengan target dana di bawah Rp 1 triliun, mungkin masih bisa diterima oleh pasar modal Tanah Air. Pasalnya, di sisi lain banyak emiten yang sedang membutuhkan dana dengan melakukan rights issue.

Namun apabila unicorn ini akan IPO dengan target dana di atas Rp 1 triliun, maka tentunya tidak bisa hanya tercatat di bursa domestik. Unicorn ini harus tercatat juga di bursa luar negeri seperti bursa Hong Kong atau Amerika Serikat (AS).

"Kalau misalkan di atas Rp 1 triliun, maka akan berat bagi pasar Indonesia untuk menerimanya," papar dia.

Edwin memaklumi antusiasme akan kehadiran unicorn ini karena bisa menambah kapitalisasi pasar di bursa dan juga menarik investor asing ke Tanah Air. Pasalnya, GoTo dengan valuasi sekitar US$ 45 miliar bisa menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di bawah BCA apabila jadi melakukan IPO.

Kendati demikian, investor yang akan berinvestasi di saham tersebut tentunya mempertanyakan struktur bisnis yang dimiliki. Edwin mencontohkan seperti halnya bisnis bank, maka harus jelas mengenai lending dan funding-nya, klien dan deposannya siapa saja.

Lebih lanjut, unicorn juga perlu memperhatikan keberlangsungan sahamnya di pasar modal. Edwin menjelaskan, dari sekitar 800 emiten yang tercatat saat ini, kurang dari 10% yang sahamnya bergerak aktif.

Sementara investor ritel yang menguasai 60% investor pasar modal sangat memperhatikan pergerakan dan likuiditas dari sebuah saham. Ciri khas dari transaksi investor ritel ini juga sangat pendek, yakni hanya 1-2 hari. Karenanya, diperlukan pula market maker yang bisa mendorong pergerakan harga saham unicorn ini.

"Kalau tidak ada market maker, dan sahamnya tidak bergerak, investor tidak akan masuk," papar dia.

Kalaupun unicorn mengandalkan manajer investasi atau dana pensiun, investor tipe ini sangat melihat valuasi dan likuiditas dari saham tersebut. Apabila saham tersebut terlalu mahal dan tidak likuid, mereka akan cenderung menghindarinya. Begitupun dengan investor asuransi yang sangat memperhatikan cashflow dalam berinvestasi di saham.

"At the end, dalam melihat sebuah emiten akan kembali lagi dari sisi valuasi. Investor juga melihat top line dan bottom line dari sebuah saham, apakah masih merugi atau tidak," tutur dia.

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN