Jumat, 15 Mei 2026

Divestasi MBSS, Indika Energy (INDY) Cetak Rugi US$ 6 Juta Pada Kuartal III-2021

Penulis : Gita Rossiana
30 Des 2021 | 14:55 WIB
BAGIKAN
Indika Energy. Foto: Perseroan.
Indika Energy. Foto: Perseroan.

JAKARTA, investor.id – PT Indika Energy Tbk (INDY) seharusnya bisa mencatat pertumbuhan laba pada kuartal III-2021. Namun, adanya divestasi saham entitas anak menyebabkan perusahaan tambang tersebut harus rela membukukan kerugian pada periode hingga September 2021.

Wakil Direktur Utama dan Group CEO  yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 6 juta hingga kuartal III-2021 atau membaik dibandingkan kuartal III-2020 yang merugi US$ 52,5 juta. Padahal, Indika mencatat laba inti sebesar US$ 83,9 juta pada kuartal III-2021. Namun karena ada operasi yang dihentikan sebesar US$ 98,1 juta terkait divestasi PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS), Indika harus mencatat rugi pada kuartal III-2021.

Secara umum, peningkatan kinerja anak-anak perusahaan, serta peningkatan permintaan dan perbaikan harga batubara mendongkrak kinerja Indika Energy secara keseluruhan. Lebih lanjut, Perseroan juga terus melakukan diversifikasi usaha pada sektor non batubara dan fokus pada keberlanjutan untuk mewujudkan komitmen environment, social and governance (ESG) Perseroan menuju netral karbon pada tahun 2050.

ADVERTISEMENT

Sepanjang kuartal III-2021, INDY membukukan pendapatan US$ 2,15 miliar atau meningkat 43,3% dari US$ 1,5 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan pendapatan terutama berasal dari Kideco Jaya Agung (Kideco) yang mencatat pendapatan sebesar US$ 1,48 miliar atau meningkat 61,8% karena harga jual rata-rata yang meningkat 39% dan volume penjualan yang meningkat 15,9%.

Kideco menjual 27,4 juta ton batubara dengan harga rata-rata US$ 54,2 per ton pada kuartal III-2021 dibandingkan dengan 23,7 juta ton batubara yang dijual dengan harga rata-rata US$ 38,8 per ton pada kuartal III-2020. Pada kuartal III-2021, Kideco mengalokasikan 9,4 juta ton batubara atau 34% dari volume penjualan ke pasar domestik, melebihi persyaratan domestic market obligation (DMO) sebesar 25% yang ditetapkan pemerintah.

Peningkatan pendapatan juga dikontribusikan oleh Indika Indonesia Resources yaitu sebesar 90,1% menjadi US$ 294,7 juta pada kuartal III-2021 dari US$ 155, juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Petrosea juga mencatat peningkatan pendapatan sebesar 20,6% menjadi US$ 301,3 juta dari US$ 249,9 juta pada kuartal III-2020 terutama karena kontribusi yang meningkat dari kontrak pertambangan.

Pendapatan Interport Mandiri Utama (IMU) juga naik 357,7% menjadi US$ 21,6 juta dikarenakan telah beroperasinya terminal penyimpanan bahan bakar sejak November 2021 dengan volume 10,5 kbd pada kuartal III-2021. Sementara itu, pendapatan Tripatra turun 42,7% menjadi US$ 155,1 juta dibandingkan US$ 270,8 juta pada kuartal III-2020.

Laba kotor pada kuartal III-2021 tercatat sebesar US$ 562,2 juta, atau meningkat 163,2% dibandingkan US$ 213,6 juta pada kuartal III-2020. Sementara itu, marjin laba kotor juga naik dari 14,2% menjadi 26,1% kuartal III-2021, terutama disebabkan oleh peningkatan kinerja Kideco, walaupun sebagian mengimbangi kerugian kotor Tripatra sebesar US$ 13,9 juta pada 9M 2021 karena adanya biaya tambahan terkait proyek BP Tangguh.

Beban penjualan, umum dan administrasi tercatat meningkat 15,7% menjadi US$ 114,5 juta pada kuartal III-2021, dikarenakan peningkatan penjualan ekspor Kideco dan peningkatan beban sewa kapal tunda dan tongkang oleh Multi Tambangjaya Utama (MUTU).

Sementara itu, beban keuangan Indika meningkat 17,3% dari US$ 70,2 juta menjadi US$ 82,3 juta pada kuartal III-2021 yang terutama disebabkan oleh meningkatnya tingkat kupon obligasi baru serta tambahan utang sebesar US$ 125 juta untuk mendanai investasi diversifikasi. Kerugian dari operasi yang dihentikan sebesar US$ 98,1 juta pada 9M 2021 disebabkan transaksi divestasi MBSS pada basis 100%. Harga transaksi untuk MBSS adalah Rp 660 per saham dengan nilai total US$ 41,2 juta untuk 51% saham pada 8 Oktober 2021. Total kerugian bersih (net impact) dari divestasi 51% saham di MBSS ditambah goodwill yang tercatat sebesar US$ 66,8 juta.

“Sebagai hasilnya, INDY membukukan rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$6 juta pada semester I-2021, dibandingkan dengan rugi sebesar US$ 52,5 juta pada kuartal III-2020. Perseroan juga mencatatkan laba inti sebesar US$ 83,9 juta pada kuartal III-2021, meningkat signifikan dibandingkan rugi inti sebesar US$ 5,5 juta pada kuartal III-2020,” jelas Azis dalam keterangan resmi, Kamis (30/12).

Belanja Modal

Pada kuartal III-2021, posisi kas, setara kas dan aset keuangan lain perseroan mencapai US$ 856 juta. Realisasi biaya modal (capital expenditure) pada kuartal III-2021 adalah sebesar US$ 34,7 juta, dimana US$ 23,1 juta digunakan untuk pemeliharaan dan penggantian aset Petrosea dan sisanya diperuntukkan untuk proyek diversifikasi.

Azis mengatakan, sepanjang kuartal III-2021, perseroan berhasil mencapai target produksi batubara yang ditetapkan. Meningkatnya harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batubara juga turut berperan dalam peningkatan pendapatan Perseroan. Diversifikasi usaha yang dilakukan perseroan sejak 2018 telah merambah ke berbagai bidang termasuk tambang emas, teknologi digital, solusi berbasis alam, serta energi baru dan terbarukan. Hal ini dilakukan untuk mendukung aspirasi perseroan untuk meningkatkan pendapatan dari sektor non batubara menjadi 50% pada 2025 dan mencapat netral karbon pada tahun 2050.

“Hal ini juga selaras dengan tujuan eksistensi Indika Energy untuk memberi energi pada Indonesia demi masa depan yang berkelanjutan. Indika Energy akan semakin memperkuat diversifikasi usaha yang telah dilakukan dalam 3 tahun terakhir. Di samping itu, keberlanjutan juga menjadi agenda utama dalam seluruh kegiatan operasional kami pada 2022,” ungkap Azis.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia