Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Foto: Perseroan.

Saham ADMR Auto Reject Atas, Asing Crossing Rp 346,51 Miliar

Rabu, 12 Januari 2022 | 15:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - Pemodal asing merealisasikan transaksi tutup sendiri (crossing) saham PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) senilai Rp 346,51 miliar di pasar negosiasi. Total saham yang ditutup sendiri sebanyak 587 juta saham dengan harga pelaksanaan Rp 590.

Harga penjualan tersebut tersebut jauh di bawah harga penutupan hari ini di level Rp 735 setelah mengalami penguatan Rp 145 (24,58%). Berdasarkan data BEI, saham ADMR ditutup auto reject setiap hari sejak pelaksanaan listing perdana pada 3 Januari 2021 di harga Rp 100 per saham. Namun demikian belum jelas siapa investor yang melakukan crossing saham tersebut.

Hingga Agustus 2021, Adaro Minerals menunjukkan lonjakan pendapatan menjadi US$ 206,62 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 74,79 juta. Sedangkan laba tahun berjalan bertumbuh menjadi US$ 44,99 juta hingga Agustus 2021, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan rugi periode berjalan US$ 18,63 juta. Total aset perseroan mencapai US$ 811 juta, liabilitis US$ 761,96 juta, dan ekutias mencapai US$ 49,03 juta.

Baca juga: ARA Setiap Hari, Seberapa Kuat Fundamental Adaro Minerals (ADMR)?

Terkait prospek usaha, manajemen Adaro Minerals dalam prospektus IPO saham yang diterbitkan sebelumnya menyebutkan bahwa permintaan batu bara metalurgi berkaitan erat dengan peningkatan permintaan besi baja. Sedangkan permintaan besi baja dipengaruhi atas peningkatan aktivitas perekonomian negara. Dengan kondisi ekonomi global yang terus membaik setelah dihantam pandemi Covid-19, permintaan besi baja diperkirakan kembali meningkat.

Batu bara metalurgi dijual ke produsen baja yang digunakan untuk memproduksi pig iron/baja. Produsen baja mengubah batu bara menjadi kokas dalam oven kokas, kemudian memasukkan kokas ke blast furnace bersamaan dengan bijih besi dan fluks. Sedangkan jenis batu bara yang diproduksi perseroan adalah hard coking coal (HCC), semi hard coking coal (SHCC), dan green coal (GC).

Kondisi tersebut akan berimbas terhadap kenaikan permintaan batu bara metalurgi ke depan. Permintaan impor terbesar diperkirakan tetap berasal dari Tiongkok, India, Vietnam, dan Turki setidaknya dalam 10 tahun mendatang. Permintaan batu bara metalurgi juga diperkirakan datang dari sejumlah negara lainnya.

Adaro Minerals memproyeksikan bahwa permintaan batu bara metalurgi bakal meningkat dari 331 juta ton pada 2020 menjadi 401 juta ton pada 2040. Sedangkan Tiongkok tercatat sebagai importir terbesar sebanyak 80 juta ton pada 2020, India sebanyak 62 juta ton, dan Jepang sebanyak 55 juta ton.

Ketiga negara tersebut diprediksi tetap menjadi importir batu bara metalurgi hingga tahun 2040 dengan perkiraan impor Tiongkok meningkat menjadi 79 juta ton, India bakal mencapai 109 juta ton, dan Jepang kemungkinan mencapai 48 juta ton.

Baca juga: IHSG Berbalik Koreksi, Saham RBMS, AKSI, dan ADMR Justru Auto Reject Atas

Adaro Minerals sebelumnya menyebutkan bahwa cadangan dan sumber daya batubara yang dimiliki masih melimpah, yakni sebanyak 170,7 juta ton cadangan dan 980 juta ton sumber daya. Cadangan besar tersebut membuka peluang pertumbuhan bagi perseroan.

Perseroan melalui anak perusahaan telah mengoperasikan dua konsesi PKP2B, yaitu melalui PT Lahai Coal (LC) dan PT Maruwai Coal (MC). Maruwai Coal merupakan satu-satunya konsesi yang menjalankan aktivitas produksi dan memproduksi batubara kokas keras dari tambang Lampunut. Sedangkan Lahai Coal, sedang melakukan optimalisasi tambang.

Adaro Minerals sebelumnya menggelar IPO dengan melepas sebanyak 6,05 miliar saham atau setara degnan 15%. Saham tersebut dilepas direntang harga Rp 100, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini Rp 604,86 miliar.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN