Jumat, 15 Mei 2026

Meski Fed Naikkan Suku Bunga, Inflasi Jepang Tetap di Bawah Target 2%

Penulis : Grace El Dora
17 Mar 2022 | 16:17 WIB
BAGIKAN
Seorang pejalan kaki yang mengenakan masker sedang berjalan melewati kantor pusat Bank of Japan (BoJ) di Tokyo, Jepang beberapa waktu lalu. (FOTO: Kazuhiro NOGI / AFP)
Seorang pejalan kaki yang mengenakan masker sedang berjalan melewati kantor pusat Bank of Japan (BoJ) di Tokyo, Jepang beberapa waktu lalu. (FOTO: Kazuhiro NOGI / AFP)

TOKYO, investor.id – Federal Reserve (The Fed) telah mengambil kebijakan menaikkan suku bunga, namun pemerintah Jepang masih tidak mungkin melihat inflasi mencapai target bank sentral 2%, meskipun telah memperhitungkan kenaikan biaya energi. Gubernur bank sentral Jepang (BoJ) Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa hal ini membuat langkah menjaga kebijakan moneter menjadi mudah.

Pernyataannya menyoroti perbedaan yang melebar antara sikap dovish BoJ dan The Fed. Bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut akhirnya menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2018 dan menyusun rencana untuk terus menaikkan biaya pinjaman.

“Akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mencapai target inflasi 2% kami secara stabil. Jadi terlalu dini untuk memperdebatkan secara spesifik tentang bagaimana keluar dari kebijakan yang longgar,” kata Kuroda kepada parlemen, Kamis (17/3).Analis memperkirakan bahwa inflasi konsumen inti Jepang, yang mencapai 0,2% pada Januari 2022, akan meningkat mendekati 2% mulai April 2022 karena efek pemotongan biaya ponsel menghilang.

ADVERTISEMENT

Lonjakan harga energi dan komoditas baru-baru ini telah didorong oleh perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia. Hal ini menambah tekanan inflasi, dengan dampak yang kemungkinan akan bertahan hampir sepanjang tahun ini.

Meski demikian, Kuroda mengecilkan kemungkinan bahwa inflasi akan mencapai 2% dalam waktu cukup panjang untuk menjamin penarikan stimulus moneter.

“Saya tidak berpikir Jepang berada dalam kondisi inflasi stabil mencapai 2%, bahkan ketika dampak pemotongan biaya telepon seluler dan harga energi terus meningkat,” katanya, dilansir dari web resmi Nasdaq.

Ketika inflasi 2% tercapai, BoJ akan mempertimbangkan untuk keluar dari kebijakan moneter longgar dan mengungkapkan rencananya, kata Kuroda.

“Dengan demikian, kami akan memandu kebijakan moneter untuk memastikan pasar, termasuk obligasi pemerintah Jepang tetap stabil,” tambahnya.

Pada pertemuan dua hari yang berakhir pada Jumat (18/3), BoJ secara luas diperkirakan akan membuat kebijakan stabil dan akan memperingatkan tentang peningkatan risiko ekonomi dari krisis Ukraina.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 3 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 3 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 4 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia