Menu
Sign in
@ Contact
Search
Proyek Emas Tujuh Bukit PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Perseroan)

Proyek Emas Tujuh Bukit PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Perseroan)

Merdeka Gold (MDKA) Banyak Aksi Korporasi, Harga Sahamnya Bisa Berapa nih?

Rabu, 30 Mar 2022 | 18:07 WIB
Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) diproyeksikan mencatatkan kinerja bisnis yang solid pada tahun ini, didorong oleh penguatan harga emas dan tembaga. Sementara itu, saham MDKA direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.900.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan, harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan November tahun lalu. Di samping itu, ketegangan geopolitik saat ini juga mempengaruhi tingginya permintaan investor terhadap produk emas.

“Kami melihat pola yang sama seperti 2020 ketika harga emas menembus US$ 2.000 per oz karena tingginya minat investor untuk beralih ke aset safe haven selama krisis. Hal ini menarik bagi perseroan, karena lebih dari 50% pendapatannya disumbangkan oleh segmen bisnis emas pada 2022,” jelas tim BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Meskipun produksi emas perseroan dinilai akan menurun pada tahun ini, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan Merdeka Gold akan memperoleh keuntungan dari realisasi harga emas yang lebih tinggi pada US$ 1.900 per oz. Dengan demikian, pendapatan MDKA dari emas bisa diperoleh sebesar US$ 209 juta atau naik 6,3% dibanding tahun lalu.

Advertisement

Baca juga: Provident Capital Serahkan Penguasaan HLN ke Merdeka Copper Gold (MDKA) Senilai Rp 5,35 Triliun

Dari segmen tembaga, diperkirakan pasar komoditas ini akan ketat dan harga tetap tinggi di kisaran US$ 9.000 per ton pada 2022. Perseroan sempat mengumumkan bahwa target produksi tembaga tahun ini sebanyak 18-22 ribu ton.

“Dengan proyeksi pasar tembaga yang kuat, kami berharap perseroan dapat memproduksi 22 ribu ton tembaga dan menghasilkan pendapatan sebesar US$ 198 juta, sehingga berkontribusi hampir 50% terhadap pendapatan perseroan pada 2022,” jelas BRI Danareksa Sekuritas.

Sentimen tersebut membuat BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham MDKA dengan target harga Rp 4.900. Tak hanya itu, bisnis perseroan juga akan diperkuat oleh rencana perseroan untuk membentuk kemitraan strategis dengan produsen baterai EV terbesar di dunia, yakni Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL).

Rencananya, CATL akan menjadi investor strategis di Merdeka Gold dengan memiliki 5% saham MDKA melalui rights issue. Manajemen perseroan menyebutkan bahwa mereka akan melakukan aksi korproasi tersebut pada kuartal II-2022.

Sebelumnya, Merdeka Gold melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) telah menyetujui rencana perseroan untuk melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Pada RUPSLB yang digelar 27 Januari 2022, para pemegang saham yang hadir mewakili 19,1 miliar saham atau 83,41% dari total saham MDKA. Dari rapat tersebut, ada beberapa keputusan yang diambil, di antaranya adalah persetujuan untuk penambahan modal dengan HMETD sejumlah 1,2 miliar saham dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Adapun dalam rights issue ini, Merdeka Gold berpeluang meraup dana Rp 3,41 triliun dengan patokan harga pelaksanaan Rp 2.830 per saham.

Akuisisi Tambang Emas

Di sisi lain, perseroan juga telah melakukan serangkaian aksi korporasi berupa akuisisi saham perusahaan tambang emas, yaitu PT Andalan Bersama Investama (ABI) dan PT Pani Bersama Jaya (PBJ).

Pertama, pada 1 Maret 2022. MDKA membeli sebagian saham PBJ dari Lion Selection Asia Ltd (LSA). MDKA dan LSA telah menandatangani akta pengalihan saham. Perseroan sepakat membeli 10.008 saham PBJ senilai US$ 26 juta atau setara Rp 374 miliar.

Baca juga: Begini Rangkaian Aksi Merdeka Gold (MDKA) Mengakuisisi Perusahaan Tambang Emas

“Maka kepemilikan perseroan pada PBJ menjadi sebanyak 83,35% dari sebelumnya 66,70%,” kata Sekretaris Perusahaan Merdeka Copper Gold Adi Adriansyah Sjoekri dalam keterangan tertulis.

Selanjutnya, pada 4 Maret 2022, Merdeka Gold menyelesaikan perjanjian pengambilalihan saham bersyarat PT Andalan Bersama Investama (ABI). Perseroan telah memenuhi seluruh persyaratan dan kondisi yang diperlukan untuk penyelesaian akuisisi tersebut.

“Oleh karenanya, perseroan telah efektif menjadi pemegang saham Andalan Bersama Investama dengan kepemilikan sebesar 50,1% dari seluruh modal yang ditempatkan dan disetor pada ABI,” jelas Adi.

Sebelumnya, emiten yang terafiliasi dengan Grup Saratoga dan Provident Capital ini mengumumkan rencana pengambilalihan saham ABI senilai Rp 1,14 triliun atau setara US$ 80,1 juta. ABI adalah afiliasi dari salah satu pengendali Merdeka Gold, yaitu PT Provident Capital Indonesia.

Belum lama ini, ABI telah mengakuisisi PT Gorontalo Sejahtera Mining (GSM), perusahaan tambang emas milik PT J Resources Nusantara (JRN), anak usaha PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB). Nilai transaksi sebesar Rp 2,13 triliun atau setara US$ 150 juta.

Tambang Nikel

Baru-baru ini, pengendali Merdeka Copper Gold, yaitu PT Provident Capital Indonesia menyatakan bakal menyerahkan penguasaan PT Hamparan Logistik Nusantara (HLN) kepada PT Batutua Tambang Abadi (BTA), salah satu anak usaha Merdeka Gold. Dalam aksi korporasi ini, BTA akan mengambil bagian saham baru yang diterbitkan HLN dengan jumlah mencapai 55,67% dari modal ditempatkan dan disetor penuh atau senilai Rp 5,35 triliun.

Baca juga: Brunp Catl Masuk ke Merdeka Gold (MDKA)

Aksi korporasi ini sah setelah perseroan menandatangani suatu perjanjian pengambilan bagian saham bersyarat dengan HLN dan juga PCI yang berlaku efektif pada Kamis (24/04/2022).

Transaksi itu dilakukan sebagai salah satu langkah strategis BTA yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan manfaat ekonomis bagi BTA.

Adapun HLN baru-baru ini telah menyelesaikan akuisisi kepemilikan di PT J&P Indonesia (JPI) dan PT Jcorps Industri Mineral (JIM) dari PT JCorp Cahaya Semesta, dimana HLN memiliki 95,3% saham di JPI dan 99,9% saham di JIM. Aset-aset akuisisi terdiri atas berbagai investasi JPI dan JIM.

Secara rinci, JPI mengendalikan 51% saham di PT Sulawesi Cahaya Mineral, yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk salah satu sumber daya nikel terbesar di dunia yang belum berkembang. Selain itu, memiliki saham minoritas di dua pabrik nikel Rotary Klin-Electric Furnace (RKEF) yang beroperasi, yaitu 49% di PT Cahaya Smelter Indonesia dan 28,4% di PT Bukit Smelter Indonesia.

Baca juga: Adaro Borong Saham Merdeka Gold Rp 433,18 Miliar

Selain itu, JIM memegang berbagai saham mayoritas di perusahaan-perusahaan yang memiliki IUP Batugamping dan proyek pembangkit listrik tenaga air. JIM juga memegang saham minoritas, yaitu 32% saham dari Indonesia Konawe Industrial Park.

Ketiga perusahaan tersebut bersifat hubungan afiliasi. BTA merupakan perusahaan terkendali yang sahamnya dimiliki oleh MDKA secara langsung sebesar 99,5%. Lalu, terdapat kesamaan anggota dewan komisaris BTA dengan anggota direksi perseroan.

PCI juga merupakan salah satu pengendali perseroan melalui kepemilikan saham secara tidak langsung melalui PT Mitra Daya Mustika dan PT Suwarna Arta Mandiri. Serta, terdapat kesamaan anggota direksi PCI dengan anggota direksi perseroan. HLN pun merupakan afiliasi dari PCI.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com