Jumat, 15 Mei 2026

Wow, GIC dan INA Borong Mitratel (MTEL)

Penulis : Lona Olavia
14 Apr 2022 | 07:44 WIB
BAGIKAN
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel. Foto: Perseroan.
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel. Foto: Perseroan.

JAKARTA, investor.id - Belakangan ini, Government of Singapore (GIC) dan Indonesia Investment Authority (INA) kompak membeli saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel secara agresif.

Tanpa diduga, berdasarkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) terbaru, kepemilikan mereka melebihi 5%. GIC memegang 5,72% dan INA melalui Maleo Investasi Indonesia sebesar 5,97%, sedangkan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki 71,86% dan masyarakat 16,42%.

Chief Investment Officer Dayamitra Telekomunikasi Hendra Purnama mengungkapkan perseroan bakal mengusulkan dividend payout ratio hingga 70% atau di kisaran Rp 11 per saham dalam RUPST tanggal 22 April mendatang.

ADVERTISEMENT

Mitratel mencatatkan peningkatan kinerja pada tahun 2021. Laba bersih Mitratel tahun 2021 melonjak 129,4 persen menjadi Rp 1,38 triliun, dibandingkan tahun 2020 yang sebesar Rp 602 miliar. Tahun ini, MTEL optimistis meningkatan pendapatan sebesar 10%, jauh dibanding rata-rata pertumbuhan industri yang diperkirakan sekitar 5%-6%.

Pertumbuhan signifikan ini didukung oleh 750 pembangunan menara baru (build to suit), 3.000 kolokasi organik, serta akuisisi 3.000 tower anorganik.

Praktisi dan Penasehat Investasi Rivan Kurniawan mengatakan, MTEL merupakan perusahaan tower terbesar di Indonesia dengan lebih dari 28.200 menara. Secara fundamental,  compound annual growth rate (CAGR) pendapatan selama 5 tahun sebesar 13,8% dan CAGR laba bersih selama periode itu sebesar 35,17% jauh lebih tinggi dibanding dengan rata-rata kompetitornya.

Rivan juga menambahkan bahwa MTEL memiliki kas jumbo sebesar Rp 19, 1 triliun. Hal ini membuat MTEl dalam melakukan akuisisi tower tanpa hutang dan leverage. Tidak mengherankan bila MTEL akan melebarkan sayapnya dengan membeli perusahaan asing di kawasan asia sesuai yang dilansir jurnal Dealstreet Asia. Jadi, tidak mengherankan apabila GIC dan INA membeli secara agresif di pasar karena harga sahamnya juga masih di bawah harga IPO.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia