Sejumlah Katalis Positif Dukung Minyak Melaju Bullish
JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut pergerakan harga minyak pagi ini terpantau masih berada pada tren bullish. Hal ini didukung sejumlah katalis positif antara lain ketegangan geopolitik di Eropa timur, rencana pembukaan kembali pabrik-pabrik di Shanghai serta potensi peningkatan aktifitas perjalanan di Amerika Serikat (AS).
Tensi di Eropa timur kembali memuncak dipicu serangan terbaru yang diluncurkan oleh Rusia pada hari Senin di wilayah Ukraina bagian timur. Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan bahwa 16 fasilitas militer di wilayah Kharkiv, Zaporizhzhia, Donetsk dan Dnipropetrovsk dan di pelabuhan Mykolayiv, yang berada di selatan dan timur Ukraina telah dihancurkan dalam serangan tersebut. Presiden AS Joe Biden berencana mengadakan pertemuan dengan sekutunya pada hari Selasa untuk membahas perkembangan konflik Ukraina, termasuk untuk berkoordinasi menuntut pertanggungjawaban dari Rusia.
Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Tiongkok berencana untuk mempercepat pelonggaran penguncian, yang sekaligus meredam kekhawatiran pasar sebelumnya akan potensi penurunan permintaan minyak dari negara importir minyak terbesar pertama dunia itu. Sebagai langkah awal, pabrik-pabrik di Shanghai yang telah ditutup selama 3 minggu akan mulai dibuka kembali. Mengutip dari Reuters, Tiongkok pada pekan lalu telah menyusun daftar yang berisi 666 perusahaan yang diprioritaskan untuk dibuka kembali, antara lain termasuk Tesla, Volkswagen dan mitra Tiongkok SAIC Motor, serta perusahaan semikonduktor dan medis.
Sementara itu, mandatori penggunaan masker dalam transportasi umum di AS resmi dicabut pada hari Senin, yang disusul oleh pelonggaran pembatasan di semua maskapai besar termasuk American Airlines, United Airlines dan Delta Air Lines, serta jalur kereta nasional Amtrak. Selain itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada hari Senin mencabut larangan bepergian ke sekitar 90 tujuan internasional.
“Perubahan peraturan tersebut memicu keyakinan akan semakin meningkatnya aktifitas perjalanan, yang tentunya akan turut mendongkrak kenaikan permintaan bahan bakar,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya.
Masih dari AS, pemerintah Biden berencana memberikan ijin pengeboran pada perusahaan minyak dan gas di area federal yang tersebar di setidaknya 8 negara bagian mulai bulan Juni, ungkap Biro Pengelolaan Pertanahan, bagian dari Departemen Dalam Negeri AS pada hari Senin. Pengumuman tersebut mengindikasikan potensi peningkatan produksi minyak AS di masa mendatang.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 115 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tambah tim riset ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






