Jumat, 15 Mei 2026

Bukalapak (BUKA) Disebut Tinggalkan Marketplace, Bosnya Angkat Bicara...

Penulis : Abdul Aziz
21 Apr 2022 | 12:35 WIB
BAGIKAN
Direktur Bukalapak, Teddy Nuryanto Oetomo.
Direktur Bukalapak, Teddy Nuryanto Oetomo.

JAKARTA, investor.id -  PT Bukapalak.com Tbk  disebut-sebut berganti haluan dan meninggalkan model bisnis marketplace. Salah satu bos emiten bersandi saham BUKA itu pun angkat bicara.

Menurut Direktur Bukalapak, Teddy Nuryanto Oetomo, anggapan bahwa Bukalapak sudah ganti haluan dan meninggalkan marketplace adalah salah kaprah. “Kalau ada yang bilang kami ganti haluan, itu salah kaprah. Memang banyak yang tanya seperti itu, termasuk para investor,” ujar Teddy pada acara buka puasa dengan wartawan di Jakarta, Rabu (20/4) malam.

Teddy menjelaskan, Bukalapak masih setia dengan model bisnis yang digeluti sejak perseroan  didirikan. Itu sebabnya, perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak awal Agustus tahun silam itu terus memperkuat pelapak (merchant online) dan Mitra Bukalapak (warung offline). “Dulu marketplace, lalu sekarang bukan marketplace? Nggak gitu,” tegas dia.

Sebelum menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pun, kata Teddy Nuryanto Oetomo, perseroan sudah punya Mitra Bukalapak (warung offline). Ke depan, Bukalapak akan terus memperkuat segmen bisnis online to offline (O2O) untuk menjangkau dan memberdayakan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

ADVERTISEMENT

Teddy mengungkapkan, model bisnis Bukalapak sangat relevan dengan kondisi negeri berpenduduk 173 juta jiwa ini. “Kalau hanya mengandalkan online, tidak mungkin kami bisa menjangkau seluruh penduduk. Untungnya, negara kita sudah punya infrastruktruktur yang memungkinkan kita bisa menjangkau seluruh negeri, yaitu warung. Kalau bikin toko sendiri, 100 tahun pun mungkin nggak akan kelar,” papar dia.

Bukalapak, menurut Teddy, akan terus memanfaatkan infrastruktur tersebut. Keterlibatan Bukalapak diharapkan mampu mendorong para UMKM naik kelas, sekaligus menjadi stimulan bagi perekonomian nasional.

Keuangan Terus Membaik

Teddy Nuryanto Oetomo mengemukakan, kinerja keuangan Bukalapak terus membaik. Pada kuartal IV-2021, total processing value (TPV) perseroan tumbuh 29% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya menjadi Rp 34,7 triliun. Sedangkan selama setahun penuh 2021 tumbuh 44% menjadi Rp 122,6 triliun.

Pertumbuhan TPV ditopang jumlah transaksi yang meningkat 26%. Average transaction value (ATV) pada 2020 sampai 2021 juga tumbuh 14%. Sekitar 73% TPV Buklapak berasal dari luar daerah Tier 1 di Indonesia. “Penetrasi all-commerce serta tren digitalisasi warung dan toko ritel tradisional terus menglami pertumbuhan yang kuat,” tutur dia.

Seiring dengan itu, Bukalapak mampu meningkatkan efisiensi, diikuti pertumbuhan yang kuat. “Atas kinerja tersebut, Bukalapak memiliki permodalan yang kuat dengan posisi kas Rp 24,7 triliun per akhir Desember 2021,” tandas dia.

Teddy mengakui, Mitra Bukalapak merupakan motor utama pertumbuhan bisnis perseroan. TPV Mitra Bukalapak pada kuartal IV-2021 melonjak 90% menjadi Rp 16,2 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya. Bahkan, selama setahun penuh 2021 melesat 146% menjadi Rp 56,2 triliun dibandingkan 2020.

“Kontribusi Mitra terhadap TPV perseroan meningkat dari 32% pada kuartal IV-2020 menjadi 47% pada kuartal IV-2021,” ucap dia.

Dia menambahkan, ATV Mitra sepanjang tahun lalu tumbuh 43% dibandingkan 2020, didukung variasi produk dan jasa yang ditawarkan Bukalapak kepada para Mitra yang terus berkembang. “Per akhir Desember 2021, jumlah Mitra yang telah terdaftar mencapai 11,8 juta, meningkat dari 6,9 juta pada akhir Desember 2020,” ujar dia.

Teddy menjelaskan, pendapatan Bukalapak pada kuartal IV-2021 tumbuh 29% dari tahun sebelumnya menjadi Rp 521 miliar, sedangkan pendapatan selama setahun penuh 2021 meningkat 38% menjadi Rp 1,9 triliun.

Dibandingkan periode sama 2020, kata dia, pendapatan Mitra Bukalapak pada kuartal IV-2021 melesat 334% menjadi Rp 321 miliar, juga meningkat 56% dibandingkan kuartal sebelumnya. Adapun pendapatan Mitra Bukalapak pada 2021 melonjak 311% menjadi Rp 818 miliar.

“Kontribusi Mitra Bukalapak terhadap pendapatan perseroan meningkat dari 18% pada kuartal IV-2020 menjadi 62% pada kuartal IV-2021,” tegas dia.

Harga Saham

Menurut Teddy Nuryanto Oetomo, kerugian laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga terus menurun. Alhasil, rasio kerugian EBITDA terhadap TPV pada 2021 menjadi 1,3% dibanding 1,9% pada periode yang sama tahun silam.

Sejalan dengan itu, Bukalapak berhasil memangkas kerugian operasional sebesar 7% menjadi Rp 1,70 triliun pada 2021 dari Rp 1,83 triliun pada 2020. Meski demikian, pada 2021, kerugian bersih perseroan meningkat 24% menjadi Rp 1,67 triliun dari Rp 1,34 triliun pada 2020. “Nah, kenapa kerugian bersih meningkat? Karena kami mendapat kredit pajak sebesar Rp 483 miliar,” tutur Teddy.

Data BEI menunjukkan, pada sesi I siang ini (Kamis, 21/4), saham BUKA ditutup melemah Rp 8 (2,1%) ke level  Rp 360, dengan market cap  Rp 37,1 triliun. Selama sepekan, saham BUKA naik 3,4%, selama sebulan melonjak  34,3%, dan selama  tahun berjalan (year to date/ytd) minus 16,3%. Listing perdana pada harga Rp 850,  saham BUKA kini memiliki price to earning ratio (PER) negatif  22,18 kali, dengan earning per share minus Rp 16,23. 

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia