Jumat, 15 Mei 2026

Minyak Menguat Dipicu Sinyal Dimulainya Krisis Gas Eropa

Penulis : Indah Handayani
12 Mei 2022 | 10:48 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi minyak
Sumber: Antara
Ilustrasi minyak Sumber: Antara

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, harga minyak pagi ini terpantau bergerak menguat didukung tanda-tanda dimulainya krisis pasokan gas di Eropa. Meski demikian, pernyataan bernada negatif dari Libya serta data stok minyak AS membatasi pergerakan harga lebih lanjut.

Pemerintah Rusia pada hari Rabu mengumumkan sanksi pada pemilik pipa Polandia EuRoPol Gaz, Gazprom Germania, dan 29 anak perusahaan Gazprom Germania. Sanksi tersebut diumumkan sebagai bentuk tanggapan pasca Uni Eropa (UE) pada hari yang sama mengisyaratkan kemungkinan embargo minyak Rusia ketika berlakunya aturan UE yang lebih ketat pada 15 Mei mendatang.

“Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis gas di Eropa lebih cepat dari yang dugaan, karena implikasi dari sanksi tersebut berdampak langsung pada aliran gas ke negara UE,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya, Kamis (12/5/2022).

ADVERTISEMENT

Turut menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan gas, aliran gas Rusia ke Eropa melalui Ukraina turun seperempat pada hari Rabu pasca Kyiv menghentikan rute transit utama yang membawa sekitar 8% alran gas Rusia ke Eropa.

Sementara itu, dalam pernyataan resmi Selasa malam, perdana menteri Libya Fathi Bashagha mengatakan bahwa ladang minyak dan pelabuhan yang ditutup akan segera dibuka kembali setelah negosiasi dengan milisi berhasil tercapai.

Serangkaian penutupan tersebut telah menyebabkan produksi minyak mentah Libya merosot sekitar 50% menjadi 600 ribu bph dalam sebulan terakhir. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari National Oil Corp yang mengoperasikan ladang minyak tentang kapan produksi atau ekspor akan kembali normal.

Dari pasar energi AS, badan statistik pemerintah, Energy Information Administration (EIA) pada Rabu malam melaporkan stok minyak mentah dalam sepekan melonjak naik sebesar 8,49 juta barel, di luar prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 457 ribu barel. Data dari EIA tersebut mengindikasikan permintaan minyak yang sedang lesu di pasar AS.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tutup tim riset ICDX.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 40 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 50 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia