Minyak Menguat Dipicu Sinyal Dimulainya Krisis Gas Eropa
JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, harga minyak pagi ini terpantau bergerak menguat didukung tanda-tanda dimulainya krisis pasokan gas di Eropa. Meski demikian, pernyataan bernada negatif dari Libya serta data stok minyak AS membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Pemerintah Rusia pada hari Rabu mengumumkan sanksi pada pemilik pipa Polandia EuRoPol Gaz, Gazprom Germania, dan 29 anak perusahaan Gazprom Germania. Sanksi tersebut diumumkan sebagai bentuk tanggapan pasca Uni Eropa (UE) pada hari yang sama mengisyaratkan kemungkinan embargo minyak Rusia ketika berlakunya aturan UE yang lebih ketat pada 15 Mei mendatang.
“Pengumuman tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis gas di Eropa lebih cepat dari yang dugaan, karena implikasi dari sanksi tersebut berdampak langsung pada aliran gas ke negara UE,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya, Kamis (12/5/2022).
Turut menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan gas, aliran gas Rusia ke Eropa melalui Ukraina turun seperempat pada hari Rabu pasca Kyiv menghentikan rute transit utama yang membawa sekitar 8% alran gas Rusia ke Eropa.
Sementara itu, dalam pernyataan resmi Selasa malam, perdana menteri Libya Fathi Bashagha mengatakan bahwa ladang minyak dan pelabuhan yang ditutup akan segera dibuka kembali setelah negosiasi dengan milisi berhasil tercapai.
Serangkaian penutupan tersebut telah menyebabkan produksi minyak mentah Libya merosot sekitar 50% menjadi 600 ribu bph dalam sebulan terakhir. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari National Oil Corp yang mengoperasikan ladang minyak tentang kapan produksi atau ekspor akan kembali normal.
Dari pasar energi AS, badan statistik pemerintah, Energy Information Administration (EIA) pada Rabu malam melaporkan stok minyak mentah dalam sepekan melonjak naik sebesar 8,49 juta barel, di luar prediksi awal yang memperkirakan stok akan turun sebesar 457 ribu barel. Data dari EIA tersebut mengindikasikan permintaan minyak yang sedang lesu di pasar AS.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tutup tim riset ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






