BRI (BBRI) Batasi Kredit ke Energi Fosil, Termasuk Batu Bara dan Minyak Bumi
JAKARTA, investor.id – Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI Sunarso menyatakan bahwa perseroan akan membatasi kredit ke sektor energi fosil, termasuk ke pertambangan batu bara dan minyak bumi. Portofolio kredit perseroan ke sektor energi fosil, terutama batu bara, yang saat ini hanya 0,03% dari keseluruhan kredit BRI, dipastikan tidak akan bertambah.
“Saya jawab tidak ikut, cukup 0,03% itu. Biar saja diurus yang memang bidangnya di situ, yang punya keahlian di situ, bidang keahlian untuk meng-assessment risikonya, termasuk untuk memutuskan kapan harus berhenti. Komitmen kami sekarang adalah tetap kepada UMKM,” tegas Sunarso saat membagikan pengalamannya secara daring, Rabu (25/5/2022), terkait keikutsertaannya pada kegiatan World Economic Forum (WEF) 2022 di Davos, Swiss.
Penegasan Sunarso itu disampaikan saat ditanya tentang kemungkinan BRI terlibat dalam pembiayaan energi fosil yang belakangan dicoba untuk didorong kembali menyusul terjadinya krisis energi global akibat pandemi dan perang Rusia-Ukraina. Dorongan untuk mengerek produksi energi fosil ini bahkan didengungkan oleh negara-negara maju seperti Jerman yang selama ini mengampanyekan ESG (environment, social, and governance) dan energi hijau (green).
“Jawabannya mungkin begini, kita memang ingin hidup 1.000 tahun, untuk bisa hidup 1.000 tahun, ‘kan hari ini harus hidup. Bahwa nanti hidup yang 900 tahun itu harus bebas dari kobalt, semua harus alami natural, tapi untuk bisa hidup hari ini ’kan kita masih perlu obat, supaya kita bisa melanjutkan hidup ini sampai 1.000 tahun,” ucap Sunarso mengandaikan.
Jadi, menurut dia, tuntutan untuk menaikkan produksi energi fosil adalah sebagai obat pahit yang harus ditelan supaya hari ini bisa hidup dan merancang kehidupan baru yang lebih sehat, tidak bergantung pada energi fosil. “Dan pertanyaanya, kalau begitu, untuk memproduksi obat, berupa batu bara, minyak, dan lain-lain tahun ini, BRI mau ikut memproduksi nggak? Saya jawab tidak ikut, cukup 0,03% itu,” tandas Sunarso.
Ia menyatakan, dalam rangka menjalankan komitmennya terhadap prinsip ESG, emiten di Bursa Efek Indonesia berkode BBRI ini akan fokus pada pemberdayaan masyarakat bawah melalui pembiayaan usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM). “Jadi yang S-nya itu, social. Environment-nya saya pikir kita mulai menuntut saja kepada yang besar-besar, ‘Ayo dong mulai di tata’,” ucap dia.
Biaya Besar
Hanya saja, kata Sunarso, ada permasalahan besar yang harus dihadapi dan tanggung semua umat manusia di dunia, yakni ternyata untuk menjalankan transisi dari penggunaan energi fosil kepada energi hijau (green energy), memakan biaya yang besar. Oleh karena itu, menurut dia, siapa yang dahulu memulai penggunaan energi fosil dan sedang menikmati hasilnya, harus menanggung proses transisi itu atau anak cucunya bagi yang sudah meninggal.
“Yang dulu mengeksploitasi minyak di negara-negara maju, ya tolong mereka turun dari surga beri tahu anak cucunya yang masih ada di dunia. Yang sekarang menghasilkan kabut karbon di atas kota-kota yang harus ditanggung biayanya, tolong kalian tanggung. Nah, saya (kira saya) bukan yang pertama ngomong ini. Pasti ada yang orang lain yang dahulu ngomong,” tutur dia.
Singkat kata, kata Sunarso, mereka yang diwarisi emisi karbon oleh mbah buyutnya dulu, maka cucu-cucunya yang sekarang kaya raya hidupnya, kerja di sektor keuangan maupun pasar modal dan tidak mau kerja di tempat kotor, harus menanggung biaya transisi itu.
Pada kesempatan yang sama, Sunarso memastikan bahwa semua investasi yang dilakukan BRI adalah ramah lingkungan (green) dan orang mau berinvestasi di BRI, termasuk investor-investor global, karena melihat BRI berkomitmen terhadap ESG dan bersama-sama mempromosikan kemakmuran global (together promoting to global prosperity).
“Jadi saya katakan, kalau mau beli saham segala macam, memang membeli saham BBRI itu tidak menjanjikan untuk menjadi crazy rich, tapi saya jamin dengan ESG BBRI yang baik, maka pemegang saham BBRI insya Allah tidak akan menjadi crazy juga,” pungkas dia.
Kredit Tumbuh 7,43%
Di sokong oleh kondisi UMKM yang mulai pulih, penyaluran kredit BRI tumbuh 7,43% (yoy) menjadi sebesar Rp 1.075,93 triliun pada kuartal I-2020. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit perbankan nasional pada kuartal sama yang sebesar 6,65%. Dengan total kredit tersebut, maka porsi portofolio kredit ke energi fosil BRI yang 0,03% adalah senilai Rp 322,78 miliar.
Menurut Sunarso, kali ini, kegiatan World Economic Forum (WEF) 2022 yang diselenggarakan di Davos, Swiss mengusung tema Working Together, Restoring Trust. WEF 2022 diselenggarakan sejak hari Minggu (22/5/2022) – Kamis (26/5/2022). BRI turut hadir mengikuti forum ekonomi tingkat dunia tersebut, yang kali ini diwakili oleh Direktur Utama BRI Sunarso.
Jumlah partisipan yang hadir dalam WEF 2022 sekitar 2.000 orang, yang merupakan perwakilan tokoh-tokoh berpengaruh di dunia, meliputi pemimpin negara, regulator, top CEO perusahaan global, dan pihak-pihak yang berpengaruh lainnya. Topik yang menjadi bahasan utama dalam WEF 2022 di antaranya adalah globalisasi, digitalisasi, implementasi ESG global, serta inklusi keuangan.
Editor: Nasori
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






