Minyak Naik Terdorong Larangan Minyak Rusia
SINGAPURA, investor.id - Harga minyak naik di awal perdagangan Asia pada Rabu pagi, setelah para pemimpin Uni Eropa menyetujui larangan parsial dan bertahap terhadap minyak Rusia. Serta, Tiongkok mengakhiri lockdown Covid-19 di Shanghai.
Minyak mentah Brent untuk pengiriman Agustus naik 78 sen atau 0,7%, menjadi diperdagangkan di US$116,38 per barel pada pukul 00.37 GMT. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Juli naik 63 sen atau 0,6%, menjadi diperdagangkan di US$115,30 per barel.
Kedua harga acuan mengakhiri Mei lebih tinggi, menandai kenaikan harga selama enam bulan berturut-turut.
Para pemimpin Uni Eropa pada prinsipnya sepakat pada Senin (30/5/2022) untuk memotong 90% impor minyak dari Rusia pada akhir tahun ini, sanksi terberat blok itu terhadap Moskow sejak invasi ke Ukraina tiga bulan lalu, yang disebut Moskow sebagai ‘operasi militer khusus’.
Setelah sepenuhnya diadopsi, sanksi terhadap minyak mentah akan bertahap dalam lebih dari enam bulan dan pada produk olahan selama delapan bulan. Embargo membebaskan minyak melalui pipa dari Rusia sebagai konsesi ke Hongaria.
"Namun, dengan Jerman dan Polandia telah mengkonfirmasi bahwa mereka tidak akan membeli minyak Rusia melalui pipa atau laut, efek totalnya adalah memotong 90 % dari penjualan minyak mentah Rusia ke Uni Eropa pada akhir tahun," kata analis dari ANZ Research dalam sebuah catatan dikutip dari Antara, Rabu (1/6/2022).
Di Tiongkok, lockdown Covid-19 di Shanghai berakhir pada tengah malam pada Rabu pagi setelah berlangsung dua bulan, mendorong ekspektasi permintaan bahan bakar yang lebih kuat dari negara tersebut.
Namun laporan bahwa beberapa produsen sedang menjajaki gagasan untuk menangguhkan partisipasi Rusia dalam kesepakatan produksi OPEC+ telah membatasi kenaikan harga minyak.
Meskipun tidak ada dorongan formal bagi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk memompa lebih banyak minyak guna menebus potensi kekurangan Rusia, beberapa anggota Teluk telah mulai merencanakan peningkatan produksi dalam beberapa bulan ke depan, Wall Street Journal melaporkan, mengutip delegasi OPEC.
"Antisipasi lebih banyak pasokan yang menghantam pasar, bahkan setelah menghentikan Rusia, dapat memicu sebagian dari aksi jual karena minyak menghentikan kenaikan pasca-embargo Uni Eropa," kata Stephen Innes, Managing Partner di SPI Asset Management, dalam sebuah catatan.
Produksi minyak mentah AS naik pada Maret lebih dari 3% ke level tertinggi sejak November, menurut laporan bulanan dari Badan Informasi Energi AS pada Selasa (31/5/2022).
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






