Tren Berlanjut, Kinerja Bumi Resources (BUMI) bakal Signifikan Tahun Ini
JAKARTA, investor.id – PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimistis dapat meningkatkan kinerjanya secara signifikan pada tahun ini, meskipun masih terdapat berbagai tantangan, baik global maupun domestik, yang bisa mempengaruhi pemulihan ekonomi nasional.
Optimisme Bumi Resources sejalan dengan membaiknya sektor batu bara dan tren kenaikan harga batu bara yang masih berlanjut pada kuartal II-2022.
Secara operasional, produksi batu bara dari anak usahanya, PT Kaltim Prima Coal (KPC), ditargetkan mencapai 55-57 juta ton tahun ini. Sedangkan dari anak usaha yang lain, PT Arutmin Indonesia, dipatok sebanyak 26-29 juta ton.
“Harga batu bara KPC diproyeksikan berkisar US$ 120-150 per ton, dengan biaya US$ 40-45 per ton. Harga batu bara Arutmin berkisar US$ 80-100 per ton, dengan biaya US$ 28-34 per ton,” ungkap manajemen Bumi Resources dalam keterangan tertulis.
Terlepas dari kondisi pandemi yang berdampak pada sektor batu bara, BUMI menyatakan bakal tetap menjaga kegiatan operasional yang mendekati normal. BUMI berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 32,6% menjadi US$ 1,37 miliar pada kuartal I-2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 1,03 miliar. “Dan, tren ini masih berlanjut,” ungkap manajemen.
Adapun beban pokok pendapatan meningkat 25,5% menjadi US$ 1,05 miliar pada kuartal I-2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 838,4 juta. Hal itu disebabkan oleh peningkatan royalti menjadi 28%.
Selanjutnya, laba usaha meningkat 78,5% menjadi US$ 259,7 juta dari US$ 145,5 juta. Laba sebelum pajak melonjak 122,1% menjadi US$ 190,8 juta dari US$ 85,9 juta.
Total laba bersih melesat 380,5% menjadi US$ 120,6 juta dari US$ 25,1 juta. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik mencapai US$ 43,3 juta dari rugi sebesar US$ 11,7 juta.
Lebih lanjut manajemen BUMI akan memastikan yang terbaik untuk menjaga produksi mendekati normal, seiring dengan penurunan kasus positif Covid-19. Hujan deras dan efek La Nina di area pertambangan berimbas pada penurunan produksi sebesar 16% menjadi 16,3 juta ton pada kuartal I-2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 19,3 juta ton.
Namun, rata-rata harga jual batu bara naik 59% menjadi US$ 84,5 per ton pada kuartal I-2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 53,1 per ton.
“Peningkatan ini sejalan dengan pemulihan harga batu bara global dan tren bullish saat ini yang dipicu oleh ketidakseimbangan pasokan dan telah membawa harga batu bara ke level tertinggi dalam 10 tahun,” jelas manajemen.
Di sisi lain, perseroan telah melakukan pembayaran sebesar US$ 613 juta atas utang pokok dan bunga Tranche A hingga April 2022.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






